Di tengah pesatnya perkembangan era digital, penyuluh pertanian dituntut untuk terus beradaptasi dengan teknologi informasi demi mengoptimalkan kinerjanya. Peran vital penyuluh sebagai jembatan informasi bagi para petani kini memerlukan pendekatan modern guna menjawab tantangan sektor agraria yang kian kompleks. Langkah ini krusial untuk memastikan transfer teknologi dan inovasi pertanian dapat tersampaikan secara efektif kepada para petani di lapangan.

Sebagai langkah strategis, pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2025 yang mengalihkan status sekitar 37 ribu penyuluh pertanian daerah ke tingkat pusat di bawah komando Kementerian Pertanian. Kebijakan ini diperkuat dengan penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 2 Tahun 2026 guna menyelaraskan urusan pemerintahan konkuren di sektor pertanian. Penataan struktural ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam mewujudkan swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.

Kepala Pusat Penyuluh Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, menjelaskan bahwa modernisasi melalui mekanisasi pertanian terbukti ampuh meningkatkan efisiensi kerja dan kapasitas produksi. Salah satu program yang kini gencar didorong adalah penerapan teknologi PM-AAS. Meski menuntut investasi awal yang sedikit lebih tinggi, yakni naik sekitar Rp 2 juta per hektar, teknologi ini mampu mendongkrak pendapatan petani secara signifikan dari rata-rata Rp 25 juta menjadi Rp 60 hingga Rp 70 juta per musim tanam.

Di sisi lain, sektor pertanian Indonesia dihadapkan pada ancaman nyata seperti perubahan iklim ekstrem, penyusutan lahan, serta stagnasi produktivitas padi sejak akhir dekade 1990-an. Penyuluh Pertanian Ahli Utama Kemenpan, Prof. Dedi Nursyamsi, menekankan pentingnya peran penyuluh sebagai agen perubahan. Dedi merinci lima fungsi utama penyuluh, yaitu sebagai motivator, fasilitator, formulator pemecah masalah, inovator teknologi lokal, serta motor penggerak agribisnis yang wajib melek teknologi informasi.

Mendukung upaya transformasi ini, sektor swasta turut berkontribusi menyediakan solusi praktis. CEO PT Global Village, Cacuk Wibisono, memperkenalkan aplikasi terintegrasi yang mencakup fitur multimedia, e-commerce, dan pintu pembayaran digital. Platform ini dirancang khusus untuk mempermudah komunikasi serta akses informasi pasar bagi para penyuluh dan petani, sekaligus mengawal transisi pertanian konvensional menuju ekosistem agribisnis modern yang lebih menguntungkan.