Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah secara resmi menginisiasi langkah strategis dalam transformasi pendidikan nasional melalui peluncuran program Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas pesatnya disrupsi digital yang mengubah lanskap kehidupan dan dunia kerja secara fundamental.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa paradigma pendidikan harus bergeser dari sekadar metode penghafalan menuju pembentukan karakter pembelajar yang adaptif. Menurutnya, sekolah kini memikul tanggung jawab besar untuk mencetak siswa yang kritis, kreatif, kolaboratif, serta memiliki kematangan dalam literasi digital.
Dalam pidatonya di Jakarta, Mu’ti menyoroti urgensi penguasaan teknologi sebagai modal utama bertahan di masa depan. Ia merujuk pada konsep 'Homo Digitalis' dari penulis Toby Walsh, yang menggambarkan integrasi mendalam antara manusia dan teknologi. Dalam ekosistem ini, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan artifisial akan menjadi penentu efisiensi dan inovasi dalam proses belajar maupun bekerja.
Program KKA yang digulirkan pemerintah diharapkan mampu membekali para pendidik dan peserta didik dengan kompetensi teknis yang relevan. Dengan menguasai koding dan kecerdasan buatan, diharapkan sumber daya manusia Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu beradaptasi dan berkembang di tengah persaingan global yang semakin berbasis pada otomasi.