Upaya mengembalikan kejayaan varietas padi lokal khas Kabupaten Klaten terus diakselerasi melalui Program Rojolele Reborn. Tidak sekadar memfokuskan pada aspek penanaman, program ini kini melangkah pada fase penguatan kapasitas petani dan perbaikan tata kelola budidaya secara holistik. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui agenda sosialisasi dan pelatihan peningkatan kapasitas yang digelar di Rumah Tani Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten.
Inisiatif yang digagas oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Jaringan Tani Muhammadiyah (JATAM) Klaten ini membekali para petani dengan sistem budidaya yang lebih terukur. Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai standar operasional prosedur (SOP) budidaya, penggunaan Buku Tani untuk pencatatan perkembangan tanaman, hingga keterampilan praktis pembuatan pupuk organik Bio Meta. Langkah ini dirancang agar seluruh proses produksi dapat terpantau dan dievaluasi secara berkala dari fase tanam hingga panen.
Ketua JATAM Cabang Prambanan, Iskandar Zulkarnain Joni Indarto, menjelaskan bahwa skema kolaborasi ini memberikan tiga keunggulan utama bagi petani mitra. Pertama, akses permodalan dengan pola pengembalian pascapanen (yarnen) yang sangat meringankan beban operasional. Kedua, adanya transfer teknologi yang mengubah pola bercocok tanam tradisional menjadi lebih modern. Ketiga, kepastian pasar di mana hasil panen akan diserap langsung oleh Koperasi JATAM dengan harga yang layak dan kompetitif.
Melalui pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir, Program Rojolele Reborn bertransformasi dari sekadar gerakan konservasi benih menjadi penataan ekosistem usaha tani yang berkelanjutan. Kedudukan petani kini digeser dari penerima bantuan menjadi mitra produksi yang berdaya secara teknologis dan ekonomi, sekaligus memperkuat kembali identitas Klaten sebagai lumbung beras berkualitas.