Ketua Umum Aliansi Perdagangan dan Industri Kreatif Indonesia (APIKI), Anto Suroto, mendorong para petani dan pelaku UMKM untuk mengadopsi budidaya pohon kelor (Moringa) dengan metode tumpang sari. Langkah ini dinilai sebagai solusi strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Metode tumpang sari memungkinkan lahan budidaya kelor tetap produktif dengan tanaman hortikultura lain, seperti cabai, terong, pare, hingga tomat. Dengan durasi panen tanaman pendamping yang relatif singkat, yakni berkisar 30 hingga 40 hari, para petani dapat menjaga aliran pendapatan rutin sembari menanti masa panen kelor yang bernilai ekonomi tinggi.

Selain efisiensi lahan, penggunaan pupuk organik produksi UMKM lokal juga menjadi fokus utama dalam inisiatif ini. Anto menekankan bahwa beralih ke praktik pertanian organik tidak hanya meningkatkan kualitas dan daya saing produk di pasar domestik maupun internasional, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian ekosistem pertanian.

Guna merealisasikan visi tersebut, APIKI menjalin kemitraan strategis dengan Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) serta Media Independen Online Indonesia (MIO-IND). Sinergi ketiga organisasi ini ditandai dengan rencana pengembangan pusat agro wisata terpadu di atas lahan seluas 6 hingga 10 hektare yang diproyeksikan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat serta inkubator bagi UMKM di sektor pertanian.

Anto Suroto menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi petani dan pelaku usaha agar mampu naik kelas. Dengan pasar kelor dan produk organik yang kian terbuka luas, inovasi agribisnis diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu menyejahterakan masyarakat secara luas.