Aksi nyata dalam mengoptimalkan potensi maritim dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University di Kabupaten Simeulue, Aceh. Melalui program riset aksi, tim akademisi ini mendorong para nelayan di kawasan transmigrasi Selaut, khususnya di Desa Lafakha, Kecamatan Alafan, untuk mengembangkan budidaya Benih Bening Lobster (BBL) guna membangun ekosistem bisnis yang mandiri dan berkelanjutan.
Ketua TEP IPB University, Dr. Irzal Effendi, mengungkapkan bahwa inisiatif ini berawal dari hasil pemetaan potensi perikanan di wilayah pesisir Simeulue. Meskipun daerah tersebut kaya akan komoditas lobster, nelayan setempat kerap menghadapi kendala teknis, seperti keterbatasan wadah pemeliharaan dan tingginya angka kematian benih saat diangkut dalam perjalanan jauh tanpa fasilitas yang memadai.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim mengusulkan metode budidaya yang adaptif bagi masyarakat lokal dengan memanfaatkan teknologi sederhana yang tidak bergantung pada aliran listrik. Salah satu teknik yang diperkenalkan adalah sistem sirkulasi air memanfaatkan gravitasi bumi menggunakan wadah bertingkat, sehingga sangat aplikatif untuk skala rumah tangga di wilayah yang minim infrastruktur energi.
Selain sistem darat sederhana, anggota tim Fina Tanjung menambahkan bahwa budidaya BBL di sekitar Pulau Lekon juga dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan laut setempat. Nelayan dapat menerapkan sistem pemeliharaan menggunakan Keramba Jaring Tenggelam (KJT) di laut lepas atau metode Recirculating Aquaculture System (RAS) di darat, memanfaatkan keahlian menyelam tradisional yang sudah melekat pada masyarakat setempat.
Program ini ditargetkan untuk tidak sekadar menjual benih mentah, melainkan memeliharanya hingga fase juvenil selama kurang lebih dua bulan. Dengan proses pendederan ini, nilai jual lobster akan meningkat secara signifikan sebelum masuk ke rantai pasar, yang pada akhirnya diharapkan mampu mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan nelayan di wilayah perbatasan tersebut.