Temuan terbaru dari studi observasional berskala global mengungkap fakta mengkhawatirkan: sekitar 40 persen penyandang penyakit kardiovaskular masih mengalami peradangan pada pembuluh darah yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, meskipun mereka telah mendapatkan pengobatan sesuai standar klinis terkini.
Hasil penelitian bertajuk POSEIDON ini dipresentasikan oleh perusahaan farmasi Novo Nordisk dalam Kongres ke-94 European Atherosclerosis Society (EAS) yang berlangsung di Athena, Yunani. Studi ini melibatkan 18.904 pasien dari 18 negara yang tersebar di kawasan Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia-Pasifik, dengan periode pengumpulan data berlangsung dari 2023 hingga 2025.
Secara spesifik, data menunjukkan bahwa dari 13.475 pasien penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA), sebanyak 5.757 orang atau 42,7 persen di antaranya juga menderita penyakit ginjal kronis (CKD). Sementara itu, 11.809 pasien tercatat mengalami gagal jantung dalam berbagai spektrum, mulai dari fraksi ejeksi yang masih terjaga hingga yang sudah menurun. Dua dari lima pasien pada kelompok-kelompok tersebut teridentifikasi mengalami inflamasi kardiovaskular.
Inflamasi kardiovaskular merupakan kondisi peradangan kronis pada pembuluh darah yang kerap tidak menimbulkan gejala. Berbeda dengan peradangan akibat infeksi, kondisi ini bekerja secara diam-diam namun mampu memperburuk risiko kejadian kardiovaskular mayor jika berlangsung dalam waktu lama. Dalam studi ini, tingkat peradangan diukur berdasarkan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) yang mencapai 2 mg/L atau lebih, sebuah pemeriksaan darah yang umum digunakan dan tersedia luas di berbagai fasilitas kesehatan.
"Studi POSEIDON menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko signifikan yang tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung," ungkap Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk. Ia menekankan pentingnya memahami cakupan risiko ini sejalan dengan pengembangan riset untuk menciptakan terapi inovatif yang mampu menjawab kebutuhan medis yang selama ini belum terpenuhi.
Profesor Carolyn SP Lam, Senior Consultant dari Department of Cardiology di National Heart Centre Singapore sekaligus pengajar di Duke-NUS Medical School, menilai temuan ini mengubah cara pandang terhadap risiko kardiovaskular residual. "Inflamasi bukanlah isu sekunder, melainkan faktor utama yang mendorong peningkatan risiko pada jutaan pasien di seluruh dunia. Yang menarik adalah konsistensi temuan ini pada berbagai kelompok pasien yang sangat beragam, menunjukkan adanya peluang pendekatan lebih praktis untuk mengidentifikasi pasien yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari terapi antiinflamasi," paparnya.
Relevansi studi ini terhadap Indonesia cukup signifikan. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung iskemik merupakan penyebab utama kematian di Tanah Air, menyumbang sekitar 30 persen dari total angka kematian nasional. Angka ini menegaskan urgensi penguatan strategi pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular secara lebih komprehensif dan berkelanjutan di Indonesia.
Meningkatnya pemahaman ilmiah tentang peran inflamasi dalam penyakit kardiovaskular juga telah diakomodasi dalam pedoman klinis terbaru dari European Society of Cardiology (ESC), American Heart Association (AHA), dan American College of Cardiology (ACC). Ketiga lembaga tersebut kini memasukkan peningkatan kadar hsCRP sebagai biomarker yang dapat memodifikasi penilaian risiko dan membantu menentukan kebutuhan pencegahan yang lebih intensif bagi pasien.
Novo Nordisk sendiri telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari dua dekade dengan fokus pada penanganan penyakit kronis yang saling berkaitan, termasuk obesitas dan diabetes. Perusahaan menyatakan komitmennya untuk terus mendukung kemajuan riset guna memperdalam pemahaman tentang faktor-faktor risiko penyakit kardiometabolik, sehingga lebih banyak pasien dapat mengakses penanganan yang tepat sasaran.