Isu mengenai keamanan produk kecantikan kembali menjadi sorotan masyarakat setelah sebuah riset internasional mengaitkan pemakaian cat rambut permanen dengan peningkatan risiko kanker payudara. Kendati demikian, para ahli meminta publik untuk menyikapi temuan statistik tersebut secara rasional dan cermat tanpa perlu disikapi dengan kepanikan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Samuel Stemi, menjelaskan bahwa studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Cancer tersebut bersifat observasional. Artinya, penelitian ini hanya menemukan adanya keterkaitan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa pewarna rambut secara langsung menyebabkan kanker payudara. Angka peningkatan risiko yang dilaporkan merupakan bentuk risiko relatif pada kelompok responden tertentu, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut dipastikan terkena kanker.
Variasi tingkat risiko dalam riset tersebut sangat bergantung pada faktor ras serta frekuensi pemakaian. Secara keseluruhan, lonjakan risiko pada seluruh partisipan berada di angka 9 persen, sementara pada kelompok perempuan kulit putih berada pada kisaran 7 persen. Angka risiko relatif hingga 60 persen hanya ditemukan pada kelompok perempuan kulit hitam yang mewarnai rambutnya secara intensif setiap lima hingga delapan minggu sekali. Bahkan, riset meta-analisis berskala besar yang meneliti lebih dari 210.000 subjek menunjukkan rata-rata kenaikan risiko global hanya berkisar 7 persen.
Dari kacamata regulasi dan keamanan bahan kimia, industri pewarna rambut telah mengalami reformasi formulasi sejak dekade 1970-an. Berbagai senyawa yang berpotensi memiliki sifat karsinogenik telah dihapus atau dibatasi secara ketat. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) di bawah naungan WHO bahkan mengategorikan penggunaan pewarna rambut pribadi dalam status belum dapat diklasifikasikan sebagai bahan karsinogenik bagi manusia lantaran belum adanya bukti ilmiah yang konsisten.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan bijak dengan selalu menggunakan produk kecantikan yang memiliki izin edar resmi, mengikuti petunjuk pemakaian, serta tidak mewarnai rambut saat kulit kepala sedang iritasi. Edukasi mengenai pencegahan kanker payudara sebaiknya tetap difokuskan pada faktor risiko utama yang memiliki bukti medis lebih kuat, seperti faktor genetik keluarga, gaya hidup, penanganan obesitas pascamenopause, serta pembatasan konsumsi alkohol.