Menjaga tubuh tetap aktif tanpa memicu nyeri sendi sering kali menjadi tantangan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat cedera atau masalah lutut. Dua aktivitas fisik yang paling populer untuk menjaga kebugaran adalah jalan kaki dan bersepeda. Namun, dari sudut pandang medis, manakah di antara keduanya yang memberikan dampak paling aman bagi persendian?

Dokter spesialis kedokteran olahraga, Joseph Garry, menjelaskan bahwa bersepeda umumnya lebih ramah bagi persendian dibandingkan dengan berjalan kaki. Hal ini dikarenakan bersepeda termasuk dalam latihan non-weight-bearing, di mana lutut tidak harus menopang seluruh berat badan tubuh saat bergerak. Alhasil, tekanan yang diterima oleh sendi lutut menjadi jauh lebih rendah dan meminimalisasi risiko nyeri.

Sebaliknya, aktivitas berjalan kaki memberikan beban yang cukup signifikan pada lutut, yakni bisa mencapai hingga 1,5 kali berat badan pada setiap langkah yang diambil. Karena perbedaan beban inilah, para praktisi medis lebih sering merekomendasikan penggunaan sepeda statis bagi pasien yang sedang menjalani pemulihan pascaoperasi atau bagi penderita osteoartritis.

Kendati lebih ringan dari sisi tekanan, bersepeda menuntut fleksibilitas atau rentang gerak lutut yang lebih besar. Gerakan melingkar saat mengayuh pedal merangsang produksi cairan sinovial, yaitu pelumas alami yang berfungsi menutrisi sendi lutut. Oleh sebab itu, bersepeda sangat baik untuk melatih kelenturan sendi secara bertahap, asalkan kondisi lutut sudah mampu menekuk dengan sudut yang memadai.

Di sisi lain, jalan kaki tetap memiliki keunggulan tersendiri. Sebagai olahraga penopang beban tubuh (weight-bearing), jalan kaki sangat efektif dalam membantu menjaga kepadatan dan kekuatan tulang. Namun, Garry mengingatkan agar segera berkonsultasi dengan fisioterapis jika muncul rasa nyeri yang mengganggu saat melakukan kedua aktivitas tersebut guna mendapatkan penanganan dan porsi latihan yang tepat.