China tengah berada dalam situasi darurat menyusul terjangan badai ekstrem dan banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah pada awal pekan ini. Kondisi cuaca buruk tersebut memaksa otoritas setempat meningkatkan status siaga demi menekan angka korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang kian meluas.

Melihat eskalasi bencana yang signifikan, Presiden China, Xi Jinping, secara langsung turun tangan dengan mengeluarkan instruksi resmi pada Selasa (7/7). Dalam arahannya, Xi menekankan prioritas utama pemerintah saat ini adalah memaksimalkan operasi penyelamatan, memberikan perawatan medis intensif bagi para korban luka, serta memastikan evakuasi warga dari zona bahaya berjalan dengan tertib dan efektif.

Data terbaru dari otoritas setempat melaporkan bahwa bencana ini telah menelan 10 korban jiwa di wilayah China bagian tengah. Selain dampak fatal, cuaca buruk yang ditandai dengan fenomena konvektif parah serta kemunculan tornado di kota-kota seperti Huangshi dan Huanggang telah melukai sedikitnya 275 orang di distrik Huangzhou. Laporan dari kantor berita Xinhua menegaskan bahwa hingga saat ini, tim gabungan masih terus berupaya menyisir lokasi terdampak untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

Tidak hanya di bagian tengah, ancaman cuaca juga dirasakan di wilayah selatan China. Dampak dari Topan Maysak yang memicu curah hujan ekstrem telah memaksa pemerintah mengevakuasi lebih dari 48.000 warga di provinsi Guangxi. Hingga saat ini, upaya mitigasi dan penanggulangan pascabencana terus digalakkan guna mencegah risiko susulan akibat curah hujan yang diprediksi masih tinggi di wilayah tersebut.