Tim peneliti Universitas Syiah Kuala (USK) yang tergabung dalam program Dia-Bencana (Diabetes Bencana) menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan bagi para penderita diabetes melitus penyintas bencana di Kabupaten Pidie Jaya. Berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya pada Kamis (23/7/2026), inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman pasien mengenai pentingnya kepatuhan menjalani terapi medis di tengah situasi pascabencana.

Program ini diinisiasi oleh lima akademisi lintas disiplin ilmu dari USK, yakni Rizanna Rosemary, Alfi Rahman, dan Uswatun Nisa dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Sarah Firdausa dari Program Studi Ilmu Penyakit Dalam, serta Nurul Kamaly dari Program Studi Ilmu Pemerintahan. Penelitian bertajuk Dia-Bencana: Komunikasi Kesehatan dan Perilaku Pencarian Informasi Terapi dan Akses Obat pada Pasien Diabetes Pascabencana di Aceh ini didukung penuh oleh pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK tahun anggaran 2026.

Ketua Tim Dia-Bencana USK, Rizanna Rosemary, menjelaskan bahwa studi ini dirancang untuk memetakan perubahan pola akses terapi dan obat sebelum dan sesudah bencana alam melanda. Melalui riset ini, tim berupaya mengidentifikasi efektivitas sistem komunikasi kesehatan, perilaku pasien dalam mencari informasi medis, serta menganalisis berbagai hambatan yang menghalangi kepatuhan pengobatan pasien diabetes di wilayah terdampak.

Selain penyuluhan, kegiatan ini juga memfasilitasi survei kepatuhan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan kadar gula darah secara gratis bagi sekitar 50 penderita diabetes dan pendamping mereka. Acara ini terselenggara berkat kolaborasi dengan Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meureudu, serta dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya, Eddy Azwar, dan Kepala Puskesmas Meurah Dua, Jamaluddin.

Kepala Dinas Kesehatan Pidie Jaya, Eddy Azwar, menyambut baik langkah taktis para akademisi ini. Ia mengungkapkan bahwa wilayahnya mencatat angka penderita diabetes yang signifikan, dengan dominasi pasien laki-laki mencapai 1.852 kasus dibandingkan perempuan sebanyak 1.542 kasus. Eddy berharap riset kolaboratif ini dapat merumuskan solusi konkret untuk menekan komplikasi penyakit tidak menular utama di wilayah tersebut, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus anggota tim, dr. Sarah Firdausa, mengingatkan bahwa penyakit diabetes menuntut keterlibatan aktif tidak hanya dari pasien, melainkan juga dari keluarga pendamping. Setelah sesi edukasi, tim Dia-Bencana USK menjadwalkan Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, BPBD, BPJS Kesehatan, serta perangkat desa setempat guna merumuskan kebijakan penanganan kesehatan yang lebih adaptif saat bencana terjadi.