Prosesi pemakaman tokoh revolusi Iran, Ali Khamenei, telah menarik perhatian dunia internasional. Selama tiga hari sejak Sabtu (4/7) hingga Senin (6/7), jenazah disemayamkan di kompleks Grand Mosalla, Teheran. Pemerintah Iran menetapkan kebijakan libur nasional bagi kantor pemerintah maupun swasta di wilayah Teheran guna memfasilitasi masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir.

Menanggapi antusiasme massa yang memadati lokasi pemakaman, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan komentar kontroversial. Dalam sebuah wawancara dengan Axios, Trump mengaku heran dengan banyaknya pelayat yang hadir. Ia bahkan menuding air mata yang diteteskan oleh para pelayat di Teheran sebagai bentuk kepalsuan, seraya menyatakan sempat mengira sosok mendiang tidak memiliki dukungan populer di negaranya sendiri.

Di balik narasi mengenai duka nasional tersebut, Trump juga mengungkapkan adanya dinamika negosiasi antara Washington dan Teheran. Meski mengakui kedua pihak sempat sepakat untuk menunda pembicaraan formal selama masa berkabung, ia menegaskan bahwa pihak Iran saat ini menunjukkan keinginan kuat untuk melanjutkan dialog kesepakatan.

Terkait keamanan selama prosesi, pihak berwenang Iran mengambil langkah tegas dengan menutup wilayah udara Teheran pada Senin (6/7). Kebijakan ini berdampak langsung pada penghentian operasional penerbangan di Bandara Internasional Mehrabad dan Bandara Internasional Imam Khomeini selama satu hari penuh. Rangkaian prosesi pemakaman sendiri dijadwalkan berakhir pada 9 Juli mendatang di kota Mashhad, yang turut menuntut penutupan wilayah udara serupa di wilayah tersebut guna menjaga kelancaran ritual terakhir sang pemimpin.