SLEMAN — Krisis iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan jangka panjang yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya telah muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari cuaca ekstrem, banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga meningkatnya risiko gangguan produksi pangan.
Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, menyampaikan bahwa suhu global telah naik sekitar 1,55 derajat Celsius dalam rentang kurang lebih 170 tahun terakhir. Menurut dia, angka tersebut menunjukkan percepatan yang melampaui perkiraan sebelumnya, yang semula diproyeksikan baru terjadi menjelang akhir abad ini.
Pernyataan itu disampaikan Dwikorita dalam Forum Pemikiran Bulaksumur bertema “Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan” yang digelar Dewan Guru Besar UGM di Balai Senat UGM. Ia menilai aktivitas manusia sejak Revolusi Industri menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat perubahan iklim secara signifikan.
Dwikorita menjelaskan, perubahan iklim yang makin cepat turut memperbesar frekuensi dan intensitas bencana geohidrometeorologi. Bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga dapat mengganggu ketahanan pangan masyarakat.
Ia mengingatkan adanya potensi krisis pangan global pada dekade 2050-an apabila gagal panen terjadi secara luas di berbagai wilayah dunia. Karena itu, langkah penanganan perlu dilakukan sejak sekarang, baik melalui pengurangan faktor penyebab perubahan iklim maupun penguatan kapasitas adaptasi masyarakat.
Dalam konteks mitigasi bencana, Dwikorita menekankan perlunya memadukan teknologi tepat guna dengan pengetahuan lokal yang telah hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, pendekatan semacam ini dapat membuat upaya pengurangan risiko bencana lebih sesuai dengan kondisi sosial, geografis, dan budaya setempat.
Ia mencontohkan kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM yang terlibat dalam pemetaan kawasan rawan bencana bersama warga. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengidentifikasi potensi bahaya, tetapi juga memetakan kelompok rentan yang perlu mendapat prioritas perlindungan.
Dwikorita menilai praktik tersebut menjadi contoh penting bagi pengembangan pendidikan berbasis penyelesaian masalah nyata. Mahasiswa, kata dia, perlu didorong untuk berkolaborasi langsung dengan masyarakat agar ilmu pengetahuan dapat memberi manfaat konkret dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Dalam forum yang sama, mantan Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia di tengah perubahan geopolitik dan kemajuan teknologi global. Ia menyebut transisi menuju energi terbarukan kini semakin memungkinkan, terutama karena biaya penyimpanan energi surya melalui baterai terus menurun.
Gita menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi membutuhkan elektrifikasi yang memadai, sementara konsumsi listrik per kapita Indonesia masih relatif rendah dibandingkan kebutuhan negara maju.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia perlu bergerak lebih jauh dari sekadar menjadi pengguna teknologi. Bangsa ini, menurut Gita, harus berani mengambil peran sebagai pencipta inovasi, termasuk dalam pengembangan kecerdasan buatan dan teknologi strategis lain yang dapat menopang transformasi ekonomi ke depan.