PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menorehkan kinerja keuangan yang impresif sepanjang paruh pertama tahun 2026. Emiten manufaktur komponen otomotif ini sukses membukukan pendapatan bersih sebesar Rp3,16 triliun, tumbuh 14 persen dibandingkan perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,77 triliun. Seiring dengan peningkatan omzet tersebut, laba bersih perseroan ikut terkerek naik menjadi Rp282,99 miliar dari sebelumnya Rp240,17 miliar.

Pencapaian positif ini memperkuat optimisme manajemen untuk merealisasikan target pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun. Presiden Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso, mengungkapkan bahwa perusahaan membidik pertumbuhan pendapatan hingga dua digit pada tahun ini. Demi merealisasikan target itu, DRMA gencar memperluas kapasitas produksi di fasilitas pabrik Jababeka dan Bekasi, serta mempercepat penetrasi produk pendukung kendaraan listrik lewat lini bisnis Dharma Connect.

Jika dibedah per lini bisnis, peningkatan performa DRMA ditopang oleh kinerja seluruh segmen yang solid. Sektor komponen roda empat (4W) menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan signifikan hingga 36 persen secara tahunan (YoY), dari Rp622 miliar menjadi Rp848 miliar. Sementara itu, segmen roda dua (2W) yang mendominasi porsi bisnis masih bertumbuh 7 persen menjadi Rp1,85 triliun, disusul oleh segmen lainnya yang naik 11 persen ke angka Rp462 miliar.

Dari sisi neraca keuangan, anak usaha Triputra Group ini mencatatkan nilai aset sebesar Rp4,42 triliun hingga akhir Juni 2026, meningkat dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp4,28 triliun. Meski demikian, jumlah liabilitas perseroan mengalami kenaikan menjadi Rp1,55 triliun, sementara nilai ekuitas sedikit melandai di angka Rp2,88 triliun. Di lantai bursa, saham DRMA ditutup melemah tipis 1,06 persen ke level Rp930 per lembar pada transaksi hari Rabu.