Pasar saham Korea Selatan kembali mengalami guncangan hebat pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) ditutup anjlok signifikan sebesar 5,98 persen atau berkurang 360,42 poin ke level 5.663,24, memperpanjang tren koreksi akibat maraknya aksi lego saham sektor teknologi.
Sepanjang hari perdagangan, pergerakan indeks terpantau sangat fluktuatif. Meskipun sempat dibuka menguat pada level 6.089,11 dan menyentuh angka tertinggi di posisi 6.228,52 pada awal sesi, kepanikan pasar segera memicu aksi jual massal. Gelombang tekanan ini sempat menyeret KOSPI ke titik terendah harian di level 5.262,77 sebelum akhirnya sedikit membaik menjelang penutupan pasar dengan total volume transaksi mencapai 449,29 juta lembar saham.
Pemicu utama kemerosotan indeks acuan ini adalah rilis laporan keuangan dari raksasa semikonduktor global, Samsung Electronics dan SK Hynix, yang kinerjanya berada di bawah ekspektasi pasar. Kegagalan pencapaian target ini memicu keraguan para pelaku pasar terhadap prospek dan efisiensi investasi besar-besaran di sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara global.
Situasi di lantai bursa kian memburuk menyusul krisis likuiditas akibat penarikan dana secara agresif (deleveraging). Aksi jual panik ini memicu mekanisme penutupan paksa (forced unwinding) atas rekening margin investor ritel serta produk Exchange Traded Fund (ETF) dengan daya ungkit (leverage) tinggi, yang secara otomatis mempercepat laju penurunan indeks.
Tekanan eksternal juga turut memperkeruh sentimen pasar regional Asia. Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali memicu kekhawatiran atas lonjakan inflasi global, yang pada akhirnya memangkas minat investor terhadap aset-aset berisiko tinggi.