Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada publik setelah mencuatnya kembali dugaan penyediaan layanan hiburan dewasa bagi wasit asing. Praktik lancung tersebut ditengarai terjadi sebelum dan sesudah pertandingan internasional di Korea Selatan selama kurun waktu Maret 2011 hingga Maret 2012.

Berdasarkan laporan yang beredar, transaksi ilegal tersebut dilakukan di sejumlah panti pijat dan tempat hiburan malam dewasa yang tersebar di Seoul serta beberapa kota penyelenggara pertandingan. Pihak KFA mengaku sangat menyesalkan terungkapnya kasus masa lalu ini, yang diklaim bahkan tidak diketahui oleh sebagian besar pengurus internal asosiasi saat ini.

Permintaan maaf ini dirilis di tengah gelombang tekanan berat yang sedang menghantam KFA. Selain skandal masa lalu tersebut, federasi sepak bola Negeri Ginseng ini tengah disorot akibat rentetan kontroversi pasca-kegagalan di Piala Dunia 2026, mulai dari penyelidikan parlemen hingga tindakan kepolisian yang menggeledah kantor pusat mereka.

Penggeledahan oleh aparat kepolisian baru-baru ini berkaitan dengan dugaan kejanggalan dalam proses penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih tim nasional pada tahun 2024. Penunjukan tersebut memicu polemik besar hingga berujung pada pengunduran diri Hong Myung-bo serta Presiden KFA, Chung Mong-gyu, yang kemudian dipanggil dalam sidang parlemen untuk memberikan klarifikasi.

Menanggapi situasi krisis kepercayaan ini, KFA berkomitmen untuk melakukan reformasi struktural secara menyeluruh. Otoritas tertinggi sepak bola Korea Selatan tersebut berjanji akan memperkuat transparansi tata kelola organisasi demi memulihkan integritas dan kepercayaan pencinta sepak bola di sana.