Harapan para astronom untuk menemukan tanda-tanda kehidupan di sistem bintang terdekat tampaknya harus pupus. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society mengungkapkan bahwa empat planet berbatu yang mengorbit Bintang Barnard (Barnard's Star) memiliki kondisi yang sangat ekstrem, kering, dan hampir tidak memiliki atmosfer.
Bintang Barnard sendiri terletak sekitar enam tahun cahaya dari Bumi, menjadikannya sistem bintang tunggal terdekat kedua setelah Alpha Centauri. Keempat planet yang mengitari bintang katai merah ini memiliki ukuran massa yang berada di antara Mars dan Bumi. Keberadaan mereka baru berhasil dikonfirmasi secara ilmiah pada tahun 2025 melalui deteksi tarikan gravitasi halus terhadap bintang induknya.
Penelitian yang dipimpin oleh Xander Byrne dari Institut Astronomi Universitas Cambridge ini menyoroti keunikan komposisi kimia Bintang Barnard yang kaya akan magnesium, bahkan mencapai dua kali lipat dibanding kandungan silikon pada Matahari. Karena planet terbentuk dari piringan material yang sama dengan bintang induknya, struktur interior keempat planet tersebut diperkirakan didominasi oleh mineral periklase, bukan olivin seperti di Bumi. Karakteristik ini membuat planet-planet tersebut memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam menyimpan air.
Selain mengalami kekeringan ekstrem sejak awal pembentukannya, seluruh planet ini mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya sehingga mengalami fenomena penguncian pasang surut (tidal locking). Akibatnya, satu sisi planet terus-menerus terpanggang radiasi bintang, sementara sisi lainnya membeku dalam kegelapan abadi. Radiasi kuat dari bintang katai merah tersebut juga diperkirakan telah mengikis habis atmosfer planet dalam kurun waktu kurang dari dua miliar tahun.
Dengan usia sistem Bintang Barnard yang diperkirakan mencapai 10 miliar tahun—lebih dari dua kali lipat usia Tata Surya kita—aktivitas geologi di dalam planet-planet tersebut diyakini telah mati total. Kehilangan panas internal yang cepat karena ukurannya yang relatif kecil membuat peluang terbentuknya atmosfer baru melalui aktivitas vulkanisme menjadi mustahil.
Kendati membawa kabar kurang menyenangkan bagi perburuan planet layak huni, metodologi penelitian ini menjadi terobosan penting bagi dunia astronomi. Para ilmuwan kini dapat memprediksi karakteristik geologis dan atmosfer planet luar hanya dengan menganalisis komposisi kimia bintang induknya. Penggunaan teleskop generasi terbaru di masa depan diharapkan dapat memvalidasi pemodelan ini secara langsung.