Kondisi kesehatan remaja di Kabupaten Gresik kini menjadi perhatian serius setelah riset terbaru mengungkapkan bahwa 32,3% siswa sekolah menengah berada dalam fase prediabetes. Temuan ini merujuk pada kondisi Impaired Fasting Glucose (IFG), di mana kadar gula darah puasa responden berada di angka 100–125 mg/dL, melampaui batas normal dan menjadi sinyal awal ancaman diabetes tipe 2.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Acta Biomedica edisi 2026 ini melibatkan 251 siswa berusia 15 hingga 19 tahun di bawah pengawasan Puskesmas Alun-Alun Gresik. Hasil analisis menunjukkan korelasi kuat antara obesitas serta pola konsumsi minuman manis dengan meningkatnya risiko IFG. Remaja dengan berat badan berlebih tercatat memiliki risiko tujuh kali lipat lebih tinggi, sementara konsumsi minuman berpemanis secara rutin meningkatkan risiko hingga 2,5 kali lipat.

Menariknya, studi tersebut mendapati bahwa risiko IFG lebih dominan pada kelompok usia yang lebih tua, yakni 17–19 tahun. Di sisi lain, faktor-faktor seperti jenis kelamin, tingkat stres, serta kualitas tidur tidak ditemukan memiliki kaitan signifikan dalam memicu kenaikan kadar gula darah pada kelompok remaja tersebut.

Para peneliti menekankan bahwa prediabetes kerap berjalan secara senyap tanpa gejala klinis yang mencolok. Hal ini menyebabkan banyak remaja abai terhadap kondisi tubuh mereka hingga risiko diabetes tipe 2 yang lebih serius muncul di usia produktif. Fenomena ini pun selaras dengan tren global di mana gaya hidup sedentari dan pola makan tidak sehat telah meningkatkan prevalensi prediabetes pada generasi muda secara drastis dalam dua dekade terakhir.

Sebagai langkah mitigasi, peneliti mendesak diperkuatnya program edukasi kesehatan di lingkungan sekolah serta skrining rutin kadar gula darah. Langkah preventif melalui pembatasan asupan gula tambahan dan pengendalian berat badan sejak dini dinilai menjadi kunci utama dalam membendung lonjakan penyakit tidak menular di masa depan.