Keadaan tanah yang terus mengalami penurunan kualitas atau degradasi kini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Indonesia. Berkurangnya unsur hara berimplikasi langsung pada merosotnya produktivitas tanaman, sehingga dibutuhkan solusi pemulihan tanah yang berkelanjutan. Menjawab persoalan ini, PT Pramudita Darya Parma memperkenalkan inovasi terbarunya melalui Pupuk Hayati Dinosaurus dalam pameran teknologi pertanian INAGRITECH 2026.
Mengusung pendekatan bio-teknologi, pupuk hayati ini mengombinasikan 18 jenis mikroba alami yang dirancang khusus untuk memulihkan kesehatan ekosistem tanah. Langkah ini dinilai krusial mengingat data menunjukkan luasan lahan pertanian yang terdegradasi di Indonesia telah menembus angka 40 juta hektar. Kerusakan lahan yang masif ini menjadi salah satu penghambat utama bagi para petani lokal dalam mencapai kestabilan panen dan mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk kimia dituding menjadi salah satu pemicu utama kerusakan tanah. Meski tanah memiliki kandungan makro yang tinggi, ketiadaan mikroba akibat paparan residu kimia yang berlebih justru mematikan ekosistem alami tanah dan menurunkan produktivitas tanaman secara jangka panjang. Oleh karena itu, penggunaan bio-teknologi menjadi kunci penting untuk mengembalikan fungsi biologis tanah.
Di dalam formulasi Pupuk Hayati Dinosaurus, terdapat bakteri menguntungkan seperti Azotobacter sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp. Mikroba-mikroba tersebut memiliki peran penting sebagai penambat nitrogen, pemecah unsur hara agar mudah diserap tanaman, penghasil hormon pertumbuhan, serta agen hayati pengendali patogen penyakit. Penerapan teknologi hayati ini terbukti tidak hanya mampu memperbaiki struktur tanah, tetapi juga memangkas biaya produksi pertanian sekaligus mendongkrak hasil panen hingga 30 persen.
Pendiri Pupuk Dinosaurus, Freddy Wijaya, mengungkapkan harapannya agar para pelaku industri pertanian dapat mengadopsi bio-teknologi ini demi memperbaiki ekosistem lahan yang rusak. Komitmen ini juga ditunjukkan dengan peluncuran produk khusus untuk metode hydroseeding di tahun 2026, yang diformulasikan untuk merehabilitasi lahan kritis di area lereng demi mendukung sistem pertanian Indonesia yang sehat dan berkelanjutan.