PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menunjukkan performa keuangan yang solid sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Raksasa teknologi nasional ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar, memperpanjang tren positif setelah mengantongi laba bersih Rp171 miliar pada triwulan sebelumnya. Lompatan laba ini didorong oleh ekspansi masif di sektor layanan keuangan digital (fintech) melalui platform GoPay.
Dalam laporan terbarunya, GoTo mencatatkan lonjakan Nilai Transaksi Bruto (GTV) inti sebesar 83 persen secara tahunan (YoY) mencapai Rp164 triliun. Selaras dengan itu, pendapatan bersih korporasi terkerek naik hingga 31 persen menjadi Rp5,7 triliun. EBITDA Grup yang disesuaikan juga mencetak rekor baru dengan menembus angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya, melesat hingga 137 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menjelaskan bahwa pencapaian gemilang ini membuktikan efektivitas strategi perusahaan dalam memperkuat ekosistem digital yang berkelanjutan. Yang menarik, untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, profitabilitas dari lini bisnis fintech sukses melampaui kontribusi bisnis layanan on-demand seperti transportasi dan pengantaran makanan.
Kinerja cemerlang sektor fintech tecermin dari EBITDA disesuaikan yang meroket 447 persen menjadi Rp481 miliar, didukung pendapatan bersih yang tumbuh 53 persen hingga menembus angka Rp2 triliun. Pertumbuhan operasional ini ditopang oleh kenaikan basis pengguna aktif bulanan (MTU) sebesar 29 persen menjadi 28,8 juta pengguna, dengan frekuensi transaksi mencapai 2,4 miliar kali. Selain itu, penyaluran pinjaman GoPay tumbuh subur sebesar 58 persen menjadi Rp11 triliun dengan rasio kredit macet yang terkendali.
Sementara itu, lini bisnis layanan on-demand (Gojek) tetap kokoh menyumbang pendapatan bersih sebesar Rp3,6 triliun dengan EBITDA disesuaikan mencapai Rp464 miliar. Menghadapi aturan baru tarif komisi aplikasi sebesar 8 persen yang berlaku mulai Juli 2026 sesuai regulasi Kementerian Perhubungan, GoTo optimistis dampaknya tetap terkendali. Manajemen pun tetap mempertahankan target EBITDA tahunan yang disesuaikan pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Sebagai bagian dari langkah strategis meningkatkan nilai bagi pemegang saham, GoTo berencana melakukan pengurangan modal melalui pembatalan sekitar 32 miliar saham tresuri, setara dengan 2,7 persen dari modal ditempatkan. Rencana aksi korporasi ini akan segera diajukan untuk mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) mendatang.