Indonesia dinilai harus segera menguasai teknologi baterai secara mandiri guna membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) domestik yang kuat. Langkah ini krusial agar pelaku industri pertambangan nasional tidak hanya fokus pada aktivitas hulu seperti penambangan bijih nikel, tetapi juga mampu mengintegrasikan sektor hilir demi menekan ketergantungan pada produk impor.

Ajakan strategis tersebut disampaikan oleh pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, M.Sc., dalam acara Training to Miners (TTM) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) di Jakarta. Menurut pakar fisika tanah air ini, anggapan bahwa proses pembuatan baterai kendaraan listrik sangat rumit merupakan sebuah persepsi keliru yang menghambat inovasi lokal.

Prof. Evvy memaparkan bahwa lembaga yang dipimpinnya telah aktif memberikan pelatihan praktis kepada lebih dari seribu peserta dari berbagai korporasi besar, seperti PLN, Pertamina, Astra, hingga Toyota. Melalui program intensif, para peserta tidak hanya dibekali teori dasar, melainkan langsung mempraktikkan perakitan modul baterai hingga konversi sepeda motor konvensional menjadi kendaraan bertenaga listrik.

Selain memberikan edukasi, NBRI juga aktif mendampingi industri skala besar dalam memecahkan berbagai kendala teknis operasional. Salah satu kontribusi nyata mereka adalah membantu kalkulasi komputasi saat terjadi gangguan pasokan daya di pabrik baterai berkapasitas 10 GWh, yang berhasil menyelamatkan industri dari potensi kerugian finansial yang signifikan.

Di sisi lain, peneliti senior ini juga mengingatkan pemerintah dan pelaku industri mengenai pentingnya regulasi pengelolaan limbah baterai pascapakai melalui skema Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR). Regulasi ini dinilai mendesak untuk mengantisipasi penurunan kapasitas baterai kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan baru.

Menutup penjelasannya, Prof. Evvy menegaskan bahwa penguasaan teknologi merupakan kunci utama bagi Indonesia untuk mengoptimalkan kekayaan alamnya sendiri. Dengan kolaborasi erat antar-pemangku kepentingan, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai global di masa depan.