PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sukses menorehkan pencapaian fundamental yang kokoh sepanjang semester I 2026. Di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan serta dinamika geopolitik global, bank pelat merah ini berhasil mempertahankan pertumbuhan yang sehat melalui diversifikasi kredit dan pengelolaan kualitas aset yang prima.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa kinerja positif ini tidak lepas dari langkah strategis perseroan yang fokus pada penguatan bisnis inti serta akselerasi transformasi organisasi. Langkah ini sejalan dengan peta jalan transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menekankan tata kelola profesional dan penciptaan nilai jangka panjang.

Aspek digitalisasi turut menjadi motor utama pertumbuhan BNI. Hingga Juni 2026, aplikasi retail wondr by BNI telah merangkul 15,1 juta pengguna dengan lonjakan volume transaksi mencapai 110 persen secara tahunan (YoY). Sementara pada segmen korporasi, platform BNIdirect mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 17 persen YoY menjadi Rp6.039 triliun, didukung oleh implementasi program BRAVE di seluruh jaringan kantor cabang untuk mengoptimalkan potensi ekonomi daerah.

Dari sisi intermediasi, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, memaparkan penyaluran kredit tumbuh signifikan sebesar 24,4 persen YoY mencapai Rp968,5 triliun. Ekspansi ini diimbangi oleh struktur pendanaan yang kokoh, di mana dana murah (CASA) tumbuh 11,2 persen YoY untuk mempertahankan rasio CASA di level 65,4 persen, yang sekaligus menekan biaya dana (Cost of Fund) menjadi 2,56 persen.

Kombinasi ekspansi kredit dan efisiensi biaya dana mendorong pendapatan bunga bersih (NII) tumbuh 14,2 persen YoY menjadi Rp22,3 triliun, setara dengan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (FBI) yang juga naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun. Hasilnya, laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk paruh pertama tahun dengan nilai Rp18,5 triliun, menghasilkan laba bersih bersih sebesar Rp10,8 triliun.

Menutup laporan keuangan tersebut, Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menekankan pentingnya manajemen risiko yang disiplin. Kualitas aset terpantau membaik dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang menyusut menjadi 8,1 persen dari sebelumnya 11,0 persen, sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) terkendali di level 1,9 persen dengan pencadangan yang tetap tebal demi menjaga keberlanjutan bisnis ke depan.