Mendidik Generasi Alpha yang lahir di era digital membutuhkan pendekatan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini dirasakan langsung oleh Theresia Feby Pakpahan, seorang guru Matematika di SMP Santa Theresia Pangkalpinang, yang menekankan pentingnya memenangkan hati siswa sebelum mulai menyampaikan materi pelajaran.

Feby mengidentifikasi Generasi Alpha sebagai kelompok anak yang ekspresif, cakap teknologi, namun memiliki rentang perhatian yang mudah beralih. Menurutnya, metode ceramah konvensional dan kegiatan mencatat buku pelajaran sudah tidak lagi efektif bagi mereka yang lebih menyukai pembelajaran interaktif, praktis, dan bersifat kolaboratif.

Guna menyiasati tantangan tersebut, Feby mengemas pelajaran Matematika melalui pertanyaan pemantik, kuis berbasis teknologi, permainan edukatif, hingga diskusi kelompok. Ia juga tidak ragu menyisipkan sesi jeda atau permainan penyegar saat konsentrasi siswa mulai menurun demi menjaga agar proses belajar tetap menyenangkan.

Di samping penguasaan teknologi, pendidikan karakter tetap menjadi pilar utama di kelasnya. Feby meyakini nilai moral seperti empati dan saling menghormati tidak bisa ditanamkan hanya lewat nasihat verbal, melainkan harus dicontohkan secara nyata oleh guru dalam interaksi sehari-hari.

Pentingnya pendekatan personal yang humanis ini terbukti saat Feby mendampingi seorang murid yang enggan melepas maskernya di kelas. Alih-alih memberikan sanksi disiplin, ia memilih berdialog dari hati ke hati secara tertutup, hingga akhirnya berhasil membangun rasa percaya diri siswa tersebut untuk tampil tanpa masker di sekolah.

Pengalaman mengajar ini rupanya menjadi ruang belajar timbal balik bagi Feby, terutama dalam memahami psikologi anak dan konsep pola asuh. Ia pun mengajak para pendidik dan orang tua untuk terus mendampingi keunikan Generasi Alpha dengan kesabaran, keteladanan, serta kolaborasi yang erat.