Masalah stunting dan kurang gizi pada anak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor kesehatan di Indonesia. Salah satu solusi krusial adalah pemberian ASI eksklusif secara optimal. Namun, kenyataannya lebih dari separuh ibu menyusui kerap terkendala oleh minimnya produksi ASI, sehingga memerlukan alternatif pendukung yang aman dan efektif.
Menjawab tantangan tersebut, Muhammad Ilham Gibran, seorang mahasiswa program akselerasi (fast-track) dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), membawa angin segar ke ranah global. Ia mempresentasikan hasil risetnya tentang tanaman herbal pelancar ASI (galaktagog) dalam ajang 20th World Congress of Basic and Clinical Pharmacology (WCP2026) yang diselenggarakan di Melbourne, Australia.
Di bawah bimbingan Prof. Dr. Mustofa dan drg. Fara Silvia Yuliani, Gibran memaparkan kajian komprehensif berjudul "Translational Evidence for Herbal Galactagogues: A Systematic Review". Studi ini menelaah secara mendalam berbagai tanaman berkhasiat obat yang digunakan secara turun-temurun di dunia, termasuk di Indonesia, untuk merangsang produksi air susu ibu.
Walau pemanfaatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal lintas generasi, Gibran menekankan pentingnya validasi ilmiah terhadap keamanan dan efektivitas tanaman tersebut. Melalui tinjauan sistematis ini, ia mencoba memetakan jenis herbal yang memiliki basis bukti ilmiah terkuat guna menjembatani penelitian laboratorium dengan praktik medis nyata di masyarakat.
Sebagai negara dengan kekayaan hayati melimpah, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan obat herbal terstandar internasional. Keikutsertaan delegasi muda UGM di forum dunia ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan alam Nusantara, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan para pakar internasional demi mewujudkan layanan kesehatan ibu dan anak yang berbasis bukti ilmiah.