Layanan medis berbiaya tinggi dan berkelanjutan kerap kali menjadi momok menakutkan bagi kondisi finansial keluarga. Namun, kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan terbukti menjadi tumpuan harapan sekaligus penyelamat bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Pengalaman nyata ini dirasakan langsung oleh Rianto (55), seorang pensiunan produser televisi yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia setia mendampingi istrinya, HJ Titiek Aluyah, yang harus menjalani perawatan hemodialisis (cuci darah) secara rutin sebanyak dua kali dalam seminggu di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah.
Perjalanan medis sang istri terbilang sangat berat, berawal dari operasi kanker payudara pada 2007 yang kemudian memicu komplikasi diabetes, gangguan jantung, hingga akhirnya divonis gagal ginjal pada awal 2023. Sejak saat itu, tindakan cuci darah selama lima jam per sesi menjadi rutinitas wajib untuk menyambung hidupnya.
Dengan estimasi biaya per sesi yang mencapai jutaan rupiah, total pengeluaran untuk lebih dari 260 kali tindakan hemodialisis yang telah dijalani sang istri diperkirakan menembus angka Rp400 juta. Rianto bersyukur seluruh biaya fantastis tersebut ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan, sehingga keluarganya terhindar dari krisis finansial hebat yang kerap memaksa pasien menjual aset berharga.
Tidak hanya keringanan biaya, Rianto juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kemudahan birokrasi dan kualitas pelayanan di rumah sakit. Menurutnya, sistem administrasi BPJS Kesehatan kini jauh lebih ringkas, efisien, serta didukung oleh tenaga medis yang ramah dan sigap melayani pasien.
Melalui pengalaman ini, Rianto mengajak masyarakat luas untuk memandang iuran bulanan BPJS Kesehatan sebagai wujud kepedulian sosial yang nyata. Sistem subsidi silang ini terbukti mampu menjadi jaring pengaman sosial, di mana iuran dari peserta yang sehat secara langsung menolong sesama warga negara yang tengah berjuang melawan penyakit kronis.