Surabaya — Lanskap industri teknologi visual dan hiburan di Indonesia tengah memasuki babak baru pada pertengahan 2026. Fokus pasar tak lagi sekadar mengejar resolusi layar yang semakin tajam, melainkan bergeser ke arah efisiensi operasional, integrasi sistem secara menyeluruh, dan penciptaan pengalaman imersif bagi konsumen. Pergeseran ini menjadi sorotan utama dalam ajang Surabaya Music, Light, and Sound Expo (SMEX) 2026 yang berlangsung di Kota Pahlawan.
CEO Mitra Visual Group, Yafet Victor Tanamal, menyampaikan bahwa kebutuhan pasar terhadap teknologi LED kini telah bertransformasi secara signifikan. Jika sebelumnya penyelenggaraan sebuah acara besar memerlukan perangkat terpisah dalam jumlah banyak serta mobilisasi kru yang masif, kondisi tersebut kini berubah drastis berkat kemajuan integrasi teknologi.
"Sekarang di dalam satu event, semua akan terintegrasi dalam satu PC saja, dalam satu area saja. Tidak perlu banyak orang, sudah tersistem semua," jelas Yafet saat ditemui di sela pameran SMEX 2026, Sabtu (27/6/2026). Menurutnya, meskipun secara fisik perangkat LED dan sistem pencahayaan tampak serupa dengan generasi sebelumnya, lompatan besar justru terjadi pada kemampuan integrasi di balik layar.
Pendiri Mitra Visual Group, Denny Omen, turut menegaskan bahwa inovasi integrasi ini merupakan respons langsung terhadap tuntutan industri yang menghendaki kecepatan operasional tanpa mengorbankan presisi. Perusahaan berbasis di Surabaya ini bahkan telah memperkenalkan sejumlah teknologi terdepan, mulai dari LED dengan pixel pitch 0,9 COB (Chip-on-Board), sistem pencahayaan Beam 1200, hingga perangkat hoist otomatis yang dapat bergerak naik-turun secara terprogram dalam satu ekosistem terpadu.
Namun di balik pertumbuhan yang menggiurkan, tantangan tak kalah besar turut menghadang. Denny mengakui bahwa masuknya pemain baru membuat persaingan di pasar domestik kian sengit. Situasi ini diperparah oleh fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah yang menjadi ancaman tersendiri bagi pelaku industri yang masih bergantung pada komponen impor.
Menyikapi kondisi tersebut, Mitra Visual Group mengambil langkah strategis dengan memangkas margin keuntungan internal demi menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Perusahaan juga mengurangi ketergantungan terhadap impor dari China dengan membangun fasilitas perakitan dalam negeri untuk lini produk pencahayaan, LED, dan truss. Strategi ini diklaim berhasil mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan secara konsisten hingga 70 persen setiap tahunnya.
Saat ini, kekuatan operasional Mitra Visual Group terkonsentrasi di kawasan Indonesia Timur dengan kantor pusat di Surabaya serta jaringan di Jakarta dan Bali. Selain melayani pasar komersial seperti vendor rental dan pengelola tempat hiburan, perusahaan juga memperluas jangkauan ke sektor pemerintahan melalui anak usahanya, Magnus Tech, yang fokus pada pemenuhan regulasi termasuk ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Optimisme industri visual tercermin jelas pada perhelatan SMEX 2026. Memasuki hari kedua pameran, Mitra Visual Group mengklaim telah melampaui target penjualan dibandingkan tahun sebelumnya dengan kenaikan performa sekitar 10 hingga 15 persen yang tersebar merata di seluruh lini produk. Capaian ini menjadi bukti bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, industri visual dan hiburan nasional masih melaju di jalur positif dengan inovasi integrasi sistem sebagai penggerak utamanya.