Media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh kabar mengenai ratusan anak dan remaja di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang terkonfirmasi positif HIV/AIDS. Menanggapi isu tersebut, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa lonjakan angka temuan kasus ini dipicu oleh perluasan program deteksi dini secara masif, bukan mencerminkan lonjakan penularan baru di tengah masyarakat.
Pakar Kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Vella Rohmayani, mengimbau masyarakat untuk menyikapi data tersebut secara bijak tanpa kepanikan. Dosen Teknologi Laboratorium Medis ini mengingatkan bahwa literasi yang minim sering kali melahirkan stigma negatif yang menyudutkan Orang dengan HIV (ODHIV), padahal virus ini tidak menular melalui interaksi sosial harian seperti berjabat tangan atau makan bersama.
Menurut Vella, penularan HIV bersifat sangat spesifik, meliputi hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah yang tercemar, serta penularan vertikal dari ibu ke bayi. Keberadaan stigma sosial justru menjadi batu sandungan terbesar karena membuat kelompok berisiko takut menjalani skrining kesehatan, sehingga penanganan medis menjadi terlambat.
Vella menegaskan bahwa dengan pengobatan terapi antiretroviral (ARV) yang disiplin, jumlah virus dalam tubuh ODHIV dapat ditekan secara signifikan. Terapi ini menjaga kekebalan tubuh pasien agar tetap optimal, menekan risiko komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup mereka layaknya masyarakat pada umumnya.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, Vella menyarankan pasangan yang akan menikah untuk melakukan skrining kesehatan pranikah dan pemeriksaan rutin selama kehamilan guna meminimalkan risiko penularan dari ibu ke anak. Di sisi lain, peningkatan kasus pada kelompok remaja harus direspons dengan penguatan edukasi kesehatan reproduksi yang berbasis informasi medis tepercaya demi masa depan generasi muda yang lebih sehat.