Jakarta — Paradigma perawatan kulit di dunia estetika tengah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya mayoritas pengunjung klinik kecantikan mengejar hasil instan seperti kulit glowing, lembap, dan kencang dalam waktu singkat, kini orientasi tersebut mulai bergeser ke arah pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan. Fenomena ini dikenal dengan istilah regenerative aesthetics, sebuah konsep perawatan yang menitikberatkan pada kemampuan kulit untuk meregenerasi dirinya sendiri secara alami.
Berbeda dengan metode konvensional yang menargetkan perbaikan tampilan permukaan kulit, regenerative aesthetics bekerja lebih dalam dengan mendorong proses pemulihan biologis kulit dari dalam. Meski hasilnya tidak langsung terlihat secara dramatis, perubahan yang dihasilkan dinilai lebih natural serta memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dibandingkan perawatan berbasis hasil instan.
Dokter estetika Dr. Konstantin Frank, M.D., mengungkapkan bahwa terjadi pergeseran preferensi di kalangan pasien. "Jika dulu banyak pasien fokus pada hasil yang cepat terlihat, sekarang semakin banyak yang mencari perawatan yang juga dapat membantu memperbaiki kualitas kulit dari dalam," jelasnya. Ia memprediksi bahwa ke depan, industri estetika akan semakin berorientasi pada keseimbangan antara penampilan dan kesehatan kulit, dengan klien yang lebih selektif memilih perawatan aman, alami, dan berdampak jangka panjang.
Salah satu inovasi yang menandai pergeseran ini adalah munculnya generasi baru skin booster berbasis polynucleotide. Selama ini, skin booster umumnya mengandalkan hyaluronic acid (HA), yakni bahan aktif yang bekerja dengan cara menarik dan mengunci kelembapan di dalam lapisan kulit sehingga kulit terasa lebih kenyal, halus, dan terhidrasi. Namun pendekatan ini sejatinya hanya berfokus pada aspek hidrasi semata.
Skin booster berbasis polynucleotide menawarkan mekanisme kerja yang lebih komprehensif. Alih-alih sekadar melembapkan, polynucleotide berperan menciptakan lingkungan biologis yang kondusif bagi regenerasi jaringan kulit. "Polynucleotide membantu meningkatkan aktivitas fibroblas, yaitu sel jaringan ikat yang mendukung produksi kolagen dan elastin," papar Dr. Konstantin. Dengan demikian, perbaikan kualitas kulit berlangsung secara menyeluruh dan berkembang bertahap seiring proses regenerasi alami tubuh.
Merespons tren ini, Croma-Pharma — perusahaan estetika yang bermarkas di Austria — berkolaborasi dengan GEA Aesthetic untuk memperkenalkan produk bernama PolyPhil Croma di pasar Indonesia. Produk ini merupakan skin booster polynucleotide yang diekstraksi dari DNA ikan trout. Pemilihan DNA trout sebagai bahan dasar bukan tanpa alasan. Menurut Dr. Konstantin, DNA trout yang digunakan berasal dari sumber budidaya dengan kualitas terjaga, kemudian diproses menggunakan teknologi purifikasi tingkat tinggi guna menghasilkan polynucleotide dengan kemurnian optimal.
Dari segi hasil, pengguna skin booster berbasis polynucleotide perlu bersabar karena perubahan terjadi secara gradual. Seiring berjalannya waktu, kulit akan terasa lebih terhidrasi, lebih elastis, bertekstur lebih halus, serta tampak lebih sehat dan bercahaya. Hasil optimal umumnya baru tampak setelah menjalani tiga hingga empat sesi perawatan dengan jeda dua hingga empat minggu antar sesi, meskipun hasilnya dapat bervariasi tergantung kondisi kulit masing-masing individu.
Dari sisi rentang usia, perawatan ini dinilai cocok untuk berbagai kelompok umur dengan manfaat yang berbeda. Bagi mereka yang berusia 20-an hingga awal 30-an, skin booster polynucleotide dapat berfungsi sebagai langkah pencegahan penuaan dini guna menjaga kualitas kulit sejak usia muda. Sementara bagi kelompok usia 30 hingga 40 tahun ke atas, perawatan ini berperan membantu mendukung proses regenerasi kulit yang mulai melambat secara lebih menyeluruh dan efektif.