Persaingan memperebutkan kursi di jurusan Teknologi Informasi (TI) pada sejumlah universitas terkemuka di wilayah Vietnam Selatan kian sengit dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2023–2025). Tren penerimaan mahasiswa baru menunjukkan lonjakan nilai ambang batas kelulusan yang signifikan, khususnya pada program studi mutakhir seperti Kecerdasan Buatan (AI) dan Sains Data yang kini nilainya hampir menyentuh angka sempurna 30 poin.
Di Universitas Sains (VNU-HCM), program studi Ilmu Komputer kelas lanjutan menempati posisi teratas dengan nilai batas yang terus meroket. Pada tahun 2023, jurusan ini menetapkan standar kelulusan sebesar 28,05 poin, yang kemudian naik menjadi 28,5 poin pada 2024, dan puncaknya mencapai 29,92 poin pada tahun 2025—hampir menyentuh batas absolut 30 poin. Sementara itu, peminat jurusan Kecerdasan Buatan juga harus berjuang ekstra keras karena nilai batasnya melonjak dari 27 poin pada 2023 menjadi 29,39 poin pada 2025.
Sementara itu, Universitas Teknologi (HCMUT) yang menerapkan sistem penilaian berbasis skala 100 juga mencatatkan tren serupa pada kelompok program studi komputer dan teknologi. Jurusan Ilmu Komputer standar tetap menjadi yang paling kompetitif dengan nilai kelulusan yang melonjak dari 79,84 poin pada 2023 menjadi 85,41 poin pada 2025. Kampus ini juga terus melakukan inovasi kurikulum dengan membuka program studi Sains Data pada tahun 2024 serta memperluas kolaborasi internasional untuk bidang AI dan TI pada tahun 2025 guna memenuhi permintaan pasar global.
Lonjakan nilai masuk yang drastis juga terjadi di Universitas Teknologi Informasi (UIT). Jurusan Kecerdasan Buatan menjadi primadona baru di kampus ini setelah mencatatkan kenaikan nilai batas dari 27,8 poin pada 2023 menjadi 29,6 poin pada 2025. Menariknya, di saat rumpun ilmu baru seperti Desain Mikrochip terus menunjukkan peningkatan daya tarik sejak dibuka pada 2024, beberapa jurusan TI konvensional seperti Rekayasa Perangkat Lunak dan Sistem Informasi justru mengalami sedikit penurunan nilai ambang batas pada seleksi tahun 2025.
Fenomena pergeseran nilai kelulusan ini merefleksikan perubahan minat para calon mahasiswa yang kini lebih berorientasi pada bidang teknologi masa depan. Industri global yang kian membutuhkan tenaga ahli di bidang kecerdasan buatan, analisis data raksasa, dan perancangan sirkuit terpadu menjadi motor utama di balik ketatnya persaingan masuk ke jurusan-jurusan berbasis teknologi mutakhir tersebut.