Tim Bestari Saintek Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta meluncurkan program ekosistem riset bertajuk Living Lab CO₂ Merapi. Inisiatif berbasis penelitian lapangan ini dipusatkan di Merapi Valley, Dusun Nganggring, Kalurahan Girikerto, Sleman, sebagai langkah nyata memperkuat sistem mitigasi bencana dan pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Merapi.

Pengembangan ekosistem riset yang didukung oleh Kemdiktisaintek serta LPDP ini menitikberatkan pada pengamatan fluktuasi gas karbon dioksida (CO₂). Ketua Tim Peneliti UAD, Dr. Umi Salamah, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa pelepasan gas CO₂ dari magma terjadi pada tekanan dan kedalaman yang relatif lebih besar dibanding gas vulkanik lainnya. Dinamika emisi gas tersebut menjadi indikator krusial dalam memahami pergerakan sistem vulkanik di perut Merapi.

Guna mengoptimalkan pemantauan, tim riset UAD tengah menginisiasi sistem deteksi berbasis pencitraan optik. Teknologi penginderaan nonkontak ini memungkinkan identifikasi, pemetaan, serta pemantauan konsentrasi gas secara berkelanjutan dari zona aman tanpa harus menempatkan peneliti di lokasi ekstrem yang berbahaya. Pendekatan living lab juga mengalihkan fokus riset akademis agar teruji langsung dalam kondisi lingkungan nyata.

Keunggulan riset ini terletak pada kolaborasi multisektoral yang melibatkan BPPTKG, Pemerintah Kalurahan Girikerto, BPBD, Babinkamtibmas, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), hingga relawan lokal seperti Kompas Merapi dan Lingkar Merapi. Sinergi ini memastikan bahwa inovasi sains yang dikembangkan selaras dengan kebutuhan pemantauan di lapangan serta memperkuat ketangguhan masyarakat lokal.

Selain fokus pada sains dan teknologi, kawasan ini difungsikan sebagai pusat edukasi kebencanaan bagi warga setempat. Kehadiran fasilitas Simulator Merapi di Merapi Valley kini menjadi sarana pembelajaran interaktif bagi pelajar, tenaga pendidik, hingga komunitas pemuda. Fasilitas ini terbukti efektif menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan masyarakat luas guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana vulkanik.