Dua perguruan tinggi di Papua resmi meluncurkan program studi sarjana khusus yang berfokus pada pelestarian wilayah adat. Program Sarjana Kehutanan Adat di Universitas Ottow Geissler Papua (UOG) dan Program Sarjana Ekonomi Bisnis Adat di Universitas Cenderawasih (Uncen) diluncurkan secara kolaboratif di Kota Jayapura demi mencetak generasi muda yang cakap dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan.

Peluncuran kurikulum berbasis kearifan lokal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk membangun ekosistem pendidikan kepemimpinan dan ekonomi adat. Kemitraan strategis ini melibatkan Uncen, UOG, Mitra BUMMA, Yayasan Menoken Membumi Membumma, Yayasan EcoNusa, serta Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) guna memperkuat eksistensi Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) di Tanah Papua.

Direktur Utama BUMMA, Ambrosius Ruwi Ruwindrijarto, menegaskan pentingnya regenerasi kepemimpinan dalam menjaga wilayah adat. Menurutnya, proteksi terhadap hutan dan hak adat tidak akan bertahan lama tanpa adanya pemimpin muda yang dibekali keilmuan akademis serta pemahaman mendalam tentang tata kelola adat yang nyata di lapangan.

Berbeda dengan sistem perkuliahan konvensional, program khusus ini mengintegrasikan pembelajaran kelas dengan magang praktis langsung di wilayah adat. Mahasiswa akan dilibatkan langsung dalam aktivitas ekonomi kemasyarakatan dan tata kelola BUMMA guna mendapatkan pengalaman empiris dalam mengurus bentang alam serta perekonomian lokal secara nyata.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uncen, Otniel Safkaur, menjelaskan bahwa ekonomi bisnis adat memiliki karakteristik unik yang bertumpu pada nilai spiritualitas, kelembagaan lokal, dan kebersamaan masyarakat adat. Program ini dirancang untuk melahirkan akuntan, wirausahawan, serta pengelola BUMMA yang kompetitif namun tetap memegang teguh asas keadilan sosial, budaya, dan kelestarian ekologi.

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan UOG, Efraim Mangaluk, menambahkan bahwa program kehutanan adat mengawinkan sains modern dengan sains tradisional Papua. Integrasi ini diharapkan mampu membentengi hutan adat dari eksploitasi merusak sekaligus memperkuat hak ulayat masyarakat setempat.

Sebagai langkah penunjang, para pihak terkait juga memperkenalkan Menoken Business Academy (MBA) yang menjadi wadah pendidikan nonformal. Melalui kurikulum terpadu ini, generasi muda Papua diharapkan mampu berdiri tegak sebagai pelopor kemandirian ekonomi yang ramah lingkungan dan berbasis budaya luhur.