Festival Olahraga Tradisional Kabupaten Tasikmalaya 2026 yang berlangsung di SMPN 1 Cibalong baru saja berakhir. Kendati ajang yang digelar selama tiga hari tersebut sukses menghadirkan kemeriahan dan interaksi sosial yang sehat bagi anak-anak, tantangan riil dalam pelestarian permainan tradisional baru dimulai pasca-seremoni penutupan. Diperlukan langkah konkret agar warisan budaya ini tidak sekadar menjadi ornamen tahunan, melainkan tetap hidup di halaman sekolah dan ruang publik pedesaan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi demografi muda yang sangat besar, dengan 434.544 penduduk berusia 5 hingga 19 tahun. Angka ini mencakup hampir seperempat dari total populasi daerah. Sayangnya, generasi muda ini kini tumbuh dalam ekosistem digital yang dominan. Di tengah meningkatnya penetrasi internet secara nasional yang mencapai 72,78 persen pada 2024, ruang bermain fisik kian terhimpit oleh layar gawai.
Kurangnya aktivitas fisik kini menjadi ancaman kesehatan yang nyata bagi anak-anak. Merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 37,4 persen penduduk berusia di atas 10 tahun teridentifikasi kurang bergerak. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan aktivitas fisik minimal 60 menit per hari bagi anak dan remaja. Olahraga tradisional seperti egrang, bakiak, dan galasin hadir sebagai solusi edukatif karena melatih motorik, keseimbangan, serta kerja sama tim secara menyenangkan tanpa beban target kebugaran.
Kondisi ini diperparah oleh penurunan indikator olahraga daerah. Dokumen RKPD Kabupaten Tasikmalaya 2026 mencatat penurunan partisipasi olahraga masyarakat dari 43,49 persen pada 2023 menjadi 38 persen pada 2024. Penurunan juga terjadi pada pembinaan atlet muda dan perolehan medali yang merosot tajam. Di sisi lain, terdapat ketidaksinkronan data dalam dokumen RKPD terkait target partisipasi masyarakat yang perlu segera diklarifikasi oleh pemerintah daerah demi efektivitas program.
Meski Pemkab Tasikmalaya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp19,031 miliar untuk Program Pengembangan Kapasitas Daya Saing Keolahragaan pada tahun 2026, implementasinya harus menyentuh akar rumput. Pemerintah daerah diimbau untuk menginventarisasi permainan lokal di 39 kecamatan, berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pesantren, serta memanfaatkan teknologi digital secara kreatif guna mendokumentasikan dan memopulerkan kembali olahraga tradisional dalam kehidupan sehari-hari.