Jakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mendorong seluruh pengurus cabang olahraga memperkuat sistem pembinaan atlet melalui program pemusatan latihan nasional atau pelatnas yang dirancang secara berkesinambungan. Menurutnya, pola pembinaan jangka panjang menjadi kunci agar Indonesia memiliki fondasi kuat untuk mengejar prestasi di level internasional.

Erick menyampaikan hal itu seusai menghadiri pembukaan Kejuaraan Nasional Atletik dan Indonesia U18 Open Championship Jakarta 2026 di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Ia menilai prestasi atlet tidak dapat dibentuk secara instan hanya dalam hitungan bulan.

“Tidak mungkin menciptakan atlet hanya dalam enam bulan atau setahun. Itu perlu waktu enam sampai tujuh tahun, karena itu memerlukan program multiyears,” kata Erick.

Ia menjelaskan, setiap cabang olahraga perlu menyusun peta jalan pembinaan yang jelas, mulai dari penjaringan atlet usia muda, penguatan latihan, peningkatan pengalaman bertanding, hingga pematangan menuju level elite. Dengan pola tersebut, proses pengembangan atlet dapat berjalan lebih terukur dan tidak terputus.

Erick mencontohkan persiapan menuju Olimpiade 2032 yang semestinya mulai dibangun sejak saat ini. Menurut dia, target besar seperti Olimpiade tidak cukup disiapkan menjelang pelaksanaan, melainkan harus melalui pelatnas berkelanjutan dan kompetisi yang konsisten.

Prinsip serupa, lanjutnya, juga berlaku untuk ajang regional seperti SEA Games. Persiapan yang terlalu singkat berisiko membuat target prestasi sulit tercapai secara optimal, terutama ketika negara-negara lain juga terus memperkuat sistem pembinaan olahraga mereka.

Menpora menyebut Presiden Prabowo Subianto turut memberi perhatian besar terhadap pembangunan olahraga nasional. Dalam sejumlah pertemuan rutin, kata Erick, kesinambungan pembinaan atlet menjadi salah satu isu yang terus dibahas karena berkaitan langsung dengan daya saing Indonesia di panggung internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Erick juga mengapresiasi Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) di bawah kepemimpinan Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menilai penyelenggaraan kejuaraan kelompok umur dan Indonesia Open yang melibatkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste merupakan langkah positif untuk memperluas pengalaman tanding atlet.

Erick berharap inisiatif seperti itu dapat ditiru cabang olahraga lain. Menurutnya, kejuaraan nasional tetap penting, tetapi belum cukup untuk meningkatkan daya saing apabila atlet tidak diberi kesempatan lebih luas menghadapi lawan dari negara lain.