Jamur grigit (Schizophyllum commune), yang kerap tumbuh liar pada batang kayu lapuk di wilayah pedesaan Indonesia, kini resmi mendapat perhatian serius dari dunia sains global. Pangan lokal berbentuk kipas mungil yang biasanya diolah menjadi hidangan tumis atau sup ini terbukti menyimpan kekayaan senyawa aktif (mikokimia) dengan potensi terapeutik yang luar biasa bagi kesehatan manusia.

Berdasarkan tinjauan ilmiah komprehensif yang diulas oleh Guru Besar Bidang Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, jamur grigit memenuhi prinsip medicine-food homology. Artinya, bahan pangan ini berfungsi ganda sebagai sumber nutrisi harian sekaligus agen penyembuh penyakit. Melalui analisis data referensi dari basis data global seperti Scopus, PubMed, dan Web of Science, para peneliti mengidentifikasi setidaknya 19 senyawa aktif yang berkhasiat medis di dalamnya.

Uji laboratorium secara in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa kandungan mikokimia seperti polisakarida, sesquiterpen, dan asam fenolat dalam jamur grigit memberikan setidaknya sepuluh efek farmakologis. Salah satu yang paling menonjol adalah kandungan Schizophyllan (SPG) yang aktif memicu sel imun tubuh untuk menyerang sel tumor. Di Jepang, senyawa SPG bahkan telah diuji klinis sebagai terapi pendamping untuk pasien kanker lambung dan serviks.

Selain berpotensi sebagai antikanker, jamur grigit juga berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas, pereda radang alami melalui senyawa schizomycin G, dan pengontrol diabetes dengan menghambat enzim pemicu lonjakan gula darah pascamakan. Khasiat medis lainnya mencakup perlindungan fungsi otak dari risiko Alzheimer, peningkatan kepadatan tulang untuk mencegah osteoporosis, serta kemampuannya sebagai pencerah kulit alami yang aman dari iritasi.

Sebagai bahan pangan kering, jamur grigit sangat padat gizi karena kaya akan serat larut yang bertindak sebagai prebiotik, asam amino esensial, serta mineral penting seperti kalium, kalsium, magnesium, dan zat besi. Kendati memiliki potensi yang sangat melimpah, para ilmuwan mencatat beberapa tantangan ke depan, termasuk standardisasi dosis terapi, variasi nutrisi pada media budidaya, serta kebutuhan akan uji klinis yang lebih luas pada manusia sebelum jamur liar ini sepenuhnya diadopsi dalam dunia medis modern.