Sebuah meteorit langka yang jatuh menembus atap rumah di Hillsborough, New Jersey, Amerika Serikat, memberikan temuan ilmiah yang mengejutkan. Berdasarkan penelitian terbaru, batuan luar angkasa tersebut membawa senyawa organik penting yang diyakini sebagai bahan dasar pembentuk kehidupan di tata surya.

Peristiwa jatuhnya meteorit seberat lebih dari satu kilogram ini terjadi setelah objek tersebut melesat di langit New York dan sekitarnya dengan kecepatan mencapai 14,4 kilometer per detik. Batuan antariksa ini kemudian pecah di ketinggian sekitar 35 kilometer. Meskipun radar cuaca Doppler di Bandara Internasional Newark Liberty mendeteksi sebaran serpihan dari Staten Island hingga New Jersey, hanya satu fragmen utama yang berhasil ditemukan setelah menembus plafon kamar tidur warga.

Keberhasilan penyelidikan ilmiah ini tidak lepas dari tindakan cepat pemilik rumah. Tanpa adanya korban luka, ia langsung mengamankan serpihan meteorit menggunakan sarung tangan sekali pakai, aluminium foil, serta wadah kaca steril sebelum hujan mengguyur kawasan tersebut. Langkah tanggap ini sangat krusial mengingat sifat meteorit yang berpori dan mudah menyerap kelembapan udara.

Penulis utama studi dari SETI Institute dan NASA Ames Research Center, Peter Jenniskens, menjelaskan bahwa kontaminasi yang minim memungkinkan para ilmuwan menganalisis sampel dalam kondisi yang sangat murni. Hasil analisis mengklasifikasikan meteorit Hillsborough sebagai kondrit karbon tipe CM½, sebuah jenis batuan purba kaya karbon dan air yang sangat jarang ditemukan jatuh ke Bumi.

Dalam laporan ilmiah yang dirilis di jurnal Science Advances, para peneliti mendeteksi keberadaan ratusan jenis asam amino di dalam meteorit tersebut. Danny Glavin, peneliti dari NASA Goddard Space Flight Center, mengungkapkan bahwa mayoritas asam amino yang ditemukan sangat langka atau bahkan tidak eksis secara alami di Bumi, memperkuat bukti bahwa senyawa tersebut murni berasal dari luar angkasa.

Selain asam amino, meteorit ini juga menyimpan kandungan natrium tinggi yang diduga sisa dari larutan garam purba (brine) yang membeku di asteroid induknya. Menariknya, keragaman molekul organik pada sampel ini melampaui hasil sampel asteroid Bennu dan Ryugu yang dibawa kembali ke Bumi lewat misi antariksa bernilai tinggi. Meski tidak membuktikan adanya kehidupan asing, temuan ini memperkuat teori bahwa meteorit purba berperan besar dalam menyebarkan molekul organik ke Bumi pada masa awal pembentukannya.