Tim dosen dari Universitas Teuku Umar (UTU) merespons ancaman gagal panen di wilayah rawan bencana dengan memperkenalkan inovasi Aquaponik Padi Apung Amfibi. Teknologi tepat guna ini diimplementasikan melalui program kolaborasi bersama Fakultas Pertanian Universitas Iskandar Muda kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bersatu Teguh.
Sistem ini dirancang sebagai solusi adaptif yang mengintegrasikan budidaya ikan dengan penanaman padi pada rakit apung. Dengan metode ini, lahan yang terendam banjir musiman tetap dapat berproduksi secara optimal. Ketua tim pengabdian, Dini Islama, menjelaskan bahwa konsep ini memanfaatkan limbah organik ikan sebagai nutrisi alami bagi tanaman padi, yang sekaligus membantu menjaga kualitas air di dalam kolam.
Penerapan teknologi ini mencakup serangkaian pelatihan teknis, mulai dari perakitan media apung, manajemen kualitas air, hingga tata kelola pakan yang efisien. Inisiatif yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas pendapatan keluarga petani yang kerap terancam oleh luapan air.
Ida Suriana, selaku Ketua Pokdakan Bersatu Teguh, menyambut baik kehadiran teknologi ini sebagai angin segar bagi para anggota kelompok. Menurutnya, inovasi tersebut memberikan kepastian bagi masyarakat setempat untuk tetap melakukan aktivitas pertanian dan perikanan di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Sebagai langkah strategis ke depan, tim pengabdian akan melakukan monitoring berkelanjutan untuk mengukur tingkat produktivitas sistem tersebut. Data dari evaluasi ini nantinya akan dijadikan acuan teknis bagi pemerintah daerah untuk mereplikasi model Aquaponik Padi Apung Amfibi ke wilayah lain di Kabupaten Aceh Barat yang memiliki karakteristik geografis serupa.