Di tengah tantangan geopolitik dan krisis iklim dunia, Indonesia kini memfokuskan strategi pembangunan ekonomi pada penguatan fondasi digital dan keberlanjutan energi. Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kedaulatan ekonomi melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) serta optimalisasi sumber daya domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa adopsi teknologi adalah navigasi utama dalam rantai pasok global. Berdasarkan data KORIKA, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar AI terbesar keempat di Asia dengan nilai mencapai USD70 miliar. Untuk mendukung ambisi tersebut, pemerintah tengah mengakselerasi pembangunan infrastruktur pusat data dan jaringan fiber optik strategis yang menghubungkan tanah air dengan pusat ekonomi global.
Selain transformasi digital, sektor energi juga menjadi pilar utama melalui implementasi program biodiesel B50. Kebijakan ini tidak hanya sukses menekan emisi karbon hingga 44 juta ton setiap tahun, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap penghematan devisa negara yang mencapai Rp177 triliun. Langkah progresif lainnya terlihat pada ambisi Indonesia untuk membangun kemandirian di industri semikonduktor guna merespons lonjakan permintaan global pada tahun 2030.
Kredibilitas Indonesia di mata dunia pun semakin menguat, terbukti dengan hasil survei JETRO 2025 yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ekosistem bisnis paling stabil di Asia Tenggara. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya N. Bakrie, menekankan perlunya sinergi kuat antara diplomasi ekonomi pemerintah dengan eksekusi nyata pelaku usaha untuk menciptakan lapangan kerja.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Indonesia terus mengakselerasi berbagai perjanjian kemitraan ekonomi internasional, termasuk upaya aksesi ke CPTPP. Langkah ini bertujuan untuk menyelaraskan standar regulasi domestik dengan aturan global, sekaligus mempertahankan posisi Indonesia sebagai destinasi utama bagi investasi asing langsung.