Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan analisis data kini menjadi pilar penting dalam menjaga keberlanjutan industri sepak bola global. Langkah ini dinilai efektif untuk meningkatkan pendapatan tanpa perlu membebani para pemain dengan penambahan jadwal turnamen yang semakin padat.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Presiden LaLiga, Javier Tebas, dalam forum Globant Tech Summit di New York baru-baru ini. Berkaca dari kesuksesan implementasi teknologi di Piala Dunia 2026—seperti VAR dan sistem offside semi-otomatis—Tebas menekankan bahwa adopsi teknologi yang tepat oleh organisasi olahraga akan meningkatkan kualitas interaksi dengan para penggemar secara signifikan.

Menurut Tebas, tantangan utama saat ini bukan pada ketersediaan teknologi itu sendiri, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia di dalam organisasi untuk beradaptasi. Di LaLiga, analisis data telah digunakan untuk memperkaya tayangan audiovisual, membantu komentator memberikan ulasan yang lebih mendalam, serta membuka ruang interaksi interaktif bagi penonton layar kaca.

Selain meningkatkan kualitas siaran, teknologi canggih juga menjadi senjata utama untuk memerangi pembajakan konten. Tebas menyoroti bahwa pembajakan merusak ekosistem bisnis sepak bola akibat maraknya konten ilegal gratis atau murah. Jika kebocoran pendapatan ini bisa ditekan melalui AI, asosiasi sepak bola tidak perlu lagi memaksakan turnamen baru demi mendongkrak aspek komersial.

Senada dengan Tebas, laporan Deloitte 2026 Sports Industry Outlook menempatkan AI sebagai fondasi baru bagi daya saing klub dan liga di masa depan. Mantan pemain timnas Amerika Serikat, Cobi Jones, turut mengamini perubahan drastis ini, membandingkan minimnya teknologi pada Piala Dunia 1994 dengan konektivitas global instan yang dirasakan penggemar pada Piala Dunia 2026.