Penanaman modal bernilai jumbo di sektor pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (AI) di Batam belum menjamin peningkatan nilai tambah ekonomi daerah yang signifikan. Batam kini dituntut untuk segera mencetak talenta digital lokal yang kompeten agar tidak sekadar menjadi lokasi operasional bagi korporasi teknologi global.

Pandangan ini dikemukakan oleh Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga, Zhulkarnain Abdul Rahim, dalam forum Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Singapura. Menurutnya, tantangan terbesar kawasan perbatasan ini adalah menaikkelaskan kemampuan tenaga kerja lokal dari aspek teknis operasional dasar ke keahlian teknologi yang lebih strategis.

Pernyataan tersebut merespons kekhawatiran publik mengenai risiko Batam yang berpotensi hanya menjadi halaman belakang operasional (operational backyard) bagi Singapura. Tanpa adanya peningkatan kapasitas SDM, pusat riset mendalam serta pengembangan inovasi teknologi bernilai tinggi dikhawatirkan akan tetap berpusat di luar Indonesia.

Zhulkarnain memaparkan bahwa Singapura pernah melewati fase transisi serupa saat merintis industri semikonduktor dahulu. Pada tahap awal, fokus investasi memang tertuju pada pembangunan infrastruktur fisik. Namun seiring waktu, fokus dialihkan ke peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu masuk ke dalam rantai nilai industri yang lebih tinggi dan kompleks.

Untuk menyukseskan transfer teknologi ini, kolaborasi erat antara sektor swasta, lembaga pendidikan, dan pemerintah sangat dibutuhkan. Kedekatan geografis antara Batam dan Singapura harus dimanfaatkan sebagai jembatan kemitraan pendidikan guna mempersiapkan tenaga kerja lokal dalam menghadapi gelombang inovasi kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat.