Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI mengajak civitas akademika dan generasi muda untuk menjaga kesehatan ruang digital demi menyongsong kontestasi politik yang sehat. Hal ini disampaikan oleh Anggota Bawaslu RI, Puadi, saat membuka forum diskusi "Bawaslu Campus Connect: Generasi Digital, Demokrasi Transparan" di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada Rabu (22/7/2026).
Dalam pemaparannya, Puadi menjelaskan bahwa akselerasi teknologi informasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Namun, potensi positif tersebut hanya dapat terwujud jika pemanfaatan teknologi dilakukan secara etis, diawasi dengan transparan, serta didukung oleh partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.
Menatap Pemilu 2029, tantangan demokrasi diprediksi akan semakin bergeser dari ruang fisik ke ranah siber. Bawaslu menilai keberhasilan pesta demokrasi mendatang tidak lagi hanya diukur dari tingkat partisipasi pemilih di tempat pemungutan suara (TPS), melainkan juga dari kemampuan publik dalam menyaring informasi yang valid serta menangkal penyebaran berita bohong yang menyesatkan.
Oleh karena itu, transformasi dalam metode pengawasan pemilu menjadi sebuah keniscayaan. Menurut Puadi, metode konvensional kini harus diperkuat dengan sistem pengawasan digital agar mampu merespons berbagai dinamika dan kerawanan pemilu di ruang virtual secara cepat dan tepat.
Mengingat luasnya cakupan pengawasan di dunia maya, Bawaslu menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Peran aktif kalangan mahasiswa dan akademisi diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki integritas tinggi serta kepedulian mendalam terhadap masa depan demokrasi Indonesia.