Pergeseran masif ke kendaraan listrik (EV) di China memaksa perusahaan pengolahan minyak terbesar di dunia, China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec), untuk merombak strategi bisnisnya. Raksasa BUMN China ini memutuskan meningkatkan alokasi modal ke sektor energi baru dan industri kimia hingga akhir dekade ini guna menjaga pertumbuhan pendapatan.

Langkah strategis tersebut diambil menyusul anjloknya volume penjualan bahan bakar minyak (BBM) domestik ke tingkat terendah dalam hampir sepuluh tahun terakhir. Chairman Sinopec, Hou Qijun, mengakui adanya tantangan besar dalam merespons perubahan pasar yang begitu cepat, terutama terkait kapasitas adaptasi korporasi berskala besar.

Meskipun mencatat pertumbuhan laba bersih pada semester pertama tahun 2026, Sinopec menghadapi kenyataan pahit dengan merosotnya konsumsi minyak olahan domestik sebesar 8,6 persen secara tahunan. Penurunan ini dipicu oleh tingginya harga minyak dunia serta akselerasi transisi masyarakat menuju kendaraan ramah lingkungan. Secara rinci, penjualan bensin menyusut 7,9 persen dan solar anjlok hingga 11,5 persen.

Di sisi lain, sektor penerbangan menunjukkan tren positif dengan kenaikan konsumsi avtur sebesar 1,3 persen, yang didorong oleh pulihnya rute internasional dan peningkatan mobilitas liburan. Namun, pelemahan permintaan tetap terjadi di sektor kimia dasar, di mana konsumsi setara etilena mengalami kontraksi sebesar 9,9 persen.

Untuk mengantisipasi penurunan permintaan BBM konvensional yang berkelanjutan, Sinopec kini berfokus pada pengembangan ladang minyak serpih (shale oil) serta produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel). Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya operasional kilang sekaligus menjaga profitabilitas perusahaan di tengah transisi energi global.