Semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh Daddy (53), seorang penyandang disabilitas fisik asal Sawangan, Depok, Jawa Barat, yang rela menempuh perjalanan panjang hingga ke Grogol Petamburan, Jakarta Barat, demi menghadiri Jakarta Job Fair pada Rabu (24/6/2026). Pria paruh baya pengguna kursi roda ini tampil rapi mengenakan kemeja putih, berbaur di antara ratusan pencari kerja yang memadati aula GOR Tanjung Duren.
Perjalanan Daddy dari kediamannya di Sawangan hingga ke lokasi bursa kerja tersebut memakan waktu hampir dua jam. Ia harus melewati beberapa kali transit menggunakan transportasi umum. Berangkat sejak pagi, Daddy terlebih dahulu memesan kendaraan daring menuju shelter TransJakarta karena jarak rumahnya yang cukup jauh dari halte terdekat. Dari sana, ia naik TransJakarta dari Sawangan menuju Lebak Bulus, lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Tanjung Duren.
Selain mencari pekerjaan, Daddy juga mengaku ingin menguji sendiri sejauh mana aksesibilitas TransJakarta bagi penyandang disabilitas. "Saya tadi coba explore TransJakarta. Saya pengin tahu challenge-nya seperti apa, katanya kan sudah ramah untuk disabilitas. Sudah biasa memang saya ke mana-mana sendiri," tuturnya saat berbincang di lokasi acara.
Tekad kuat Daddy untuk terus bekerja berakar dari prinsip hidupnya yang menolak bergantung pada orang lain. Meskipun mengidap spondylitis atau kelumpuhan tulang belakang sejak berusia 10 tahun, ia tidak pernah menjadikan keterbatasan fisik sebagai alasan untuk berhenti berkarya. "Bagaimanapun, orang-orang seperti saya tetap membutuhkan hidup, dan saya memang dari dulu punya moto bekerja untuk hidup. Walaupun keadaan fisik berbeda dengan yang lain, insyaallah saya bisa," ungkapnya penuh keyakinan.
Daddy tidak menutup mata terhadap tantangan yang semakin berat dalam dunia kerja bagi kelompok disabilitas saat ini. Ia mengakui bahwa persaingan kini jauh lebih ketat dibandingkan lima hingga sepuluh tahun silam, terutama dengan hadirnya generasi muda penyandang disabilitas yang memiliki pendidikan tinggi dan kompetensi unggul. "Anak-anak muda sekarang yang disabilitas ini pada keren-keren, pendidikannya bagus, punya keahlian juga, jadi persaingannya memang berat," ujarnya.
Meski begitu, Daddy tetap optimistis bahwa pengalaman kerja dan kemampuan yang ia miliki selama bertahun-tahun bisa menjadi modal utama untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Kehadirannya di Jakarta Job Fair menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik dan usia tidak menghalangi semangatnya untuk tetap produktif dan mandiri demi menghidupi keluarga.