Emiten infrastruktur telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, sukses menorehkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun 2026. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,11 triliun pada semester I 2026, tumbuh 1,50 persen dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp1,09 triliun. Peningkatan laba ini sejalan dengan pendapatan usaha perseroan yang naik 2,10 persen menjadi Rp4,69 triliun.

Bisnis penyewaan menara telekomunikasi masih menjadi tulang punggung utama pendapatan Mitratel. Sektor ini menyumbang hingga Rp4,38 triliun atau setara dengan 93 persen dari total pendapatan perseroan. Capaian ini mengalami kenaikan sebesar 1,31 persen secara tahunan. Penggerak utama dari segmen relasi ini dipimpin oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) yang menyetor pendapatan sebesar Rp2,57 triliun.

Selain sewa menara, pertumbuhan signifikan juga dicatatkan oleh segmen jasa konstruksi yang melonjak 17,62 persen menjadi Rp298,63 miilar. Lonjakan ini didorong oleh kuatnya permintaan dari pihak berelasi yang berkontribusi sebesar Rp280,01 miliar serta peningkatan proyek dari pihak ketiga yang tumbuh melesat sebesar 55,58 persen menjadi Rp18,62 miliar. Sebaliknya, pendapatan dari sektor jasa dan sewa listrik mencatat sedikit penurunan sebesar 2,82 persen menjadi Rp13,99 miliar.

Secara portofolio pelanggan, Mitratel masih mengandalkan tiga raksasa operator seluler nasional, yaitu Telkomsel, PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Secara akumulatif, ketiga operator tersebut memberikan kontribusi sekitar 90 persen terhadap pendapatan konsolidasian perseroan. Telkomsel tetap kokoh sebagai pelanggan terbesar dengan porsi 55 persen, disusul Indosat sebesar 20 persen, dan XLSMART yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,18 persen dengan kontribusi mencapai 15 persen.

Dari sisi neraca keuangan, Mitratel mencatatkan pertumbuhan total aset sebesar 3,00 persen menjadi Rp60,10 triliun per 30 Juni 2026, jika dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang berada di angka Rp58,35 triliun. Kendati demikian, total liabilitas perseroan juga mengalami kenaikan 12,24 persen menjadi Rp28,05 triliun, seiring dengan kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 6,33 persen menjadi Rp2,35 triliun.