Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terkait laporan intelijen mengenai upaya pembunuhan yang menyasar dirinya. Merespons informasi yang dibagikan oleh otoritas Israel tersebut, Trump secara terbuka menyatakan bahwa militer Amerika Serikat telah berada dalam posisi siaga penuh untuk melancarkan serangan balasan ke wilayah Iran.

Melalui pernyataan yang diunggah di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa 1.000 unit rudal telah disiagakan dengan potensi pengerahan tambahan secara masif. Ia menyatakan bahwa militer AS memiliki kapasitas untuk melumpuhkan infrastruktur strategis di Iran jika ancaman terhadap nyawanya benar-benar direalisasikan oleh Teheran.

Laporan intelijen yang memicu eskalasi ini dilaporkan berisi detail spesifik mengenai sebuah plot pembunuhan, yang diklaim sebagai informasi krusial setelah gagalnya upaya gencatan senjata antara kedua negara. Meski rincian rencana tersebut belum terverifikasi secara independen oleh pihak militer AS, Gedung Putih tetap mengambil langkah antisipasi yang signifikan guna menjamin keselamatan presiden.

Di sisi lain, muncul spekulasi dari sejumlah pejabat senior AS yang mempertanyakan validitas laporan intelijen dari pihak Israel tersebut. Ada kecurigaan bahwa informasi ini dimanfaatkan sebagai alat diplomasi untuk memengaruhi kebijakan luar negeri Washington di tengah upaya negosiasi nuklir yang masih terus diupayakan di balik layar.

Hingga saat ini, situasi di kawasan tetap berada dalam status kewaspadaan tinggi. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan terus menyiagakan jet-jet tempur bersenjata lengkap sebagai bentuk unjuk kekuatan sekaligus persiapan untuk tindakan taktis jika terjadi eskalasi militer yang tidak terduga di masa depan.