Dunia olahraga Kabupaten Agam tengah diguncang ketegangan setelah puluhan pengurus cabang olahraga (pengcab) di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Agam memilih melangkah keluar dari ruangan rapat (walk out). Aksi protes ini terjadi di tengah berlangsungnya agenda koordinasi persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat yang digelar di Aula Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Agam.

Suasana rapat yang semula dipenuhi perwakilan dari 54 pengcab mendadak lengang setelah mayoritas pengurus memutuskan pergi saat Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, M. Lutfie, memberikan arahan. Gejolak ini dipicu oleh kekecewaan mendalam atas kehadiran jajaran pengurus caretaker dalam rapat tersebut. Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam dinilai berat sebelah serta mencederai hak-hak demokrasi dan ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Ketua Pengcab Taekwondo Agam, Erwin Tanjung, menyuarakan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang dinilainya belum pernah terjadi sebelumnya. Tokoh dan pelatih senior yang telah berkiprah sejak era 1990-an ini menyebut aksi tersebut sebagai catatan sejarah kelam bagi pembinaan olahraga daerah. Ia menilai jajaran pejabat pemerintah lebih mementingkan agenda kelompok tertentu daripada memperjuangkan nasib ratusan atlet Agam yang telah menunggu momen Porprov selama lebih dari delapan tahun.

Senada dengan Erwin, Ketua Pengcab E-Sport Indonesia (ESI) Agam, Yudha Novri, didampingi Ketua Pengcab POBSI Agam, Eka Heraska, menyampaikan kritik tajam terhadap Pemkab Agam. Yudha menegaskan bahwa pengurus cabang olahraga dan KONI sejatinya memiliki visi searah untuk mengukir prestasi. Namun, intervensi pemerintah daerah yang mengabaikan mekanisme organisasi justru menjadi penghambat utama bagi kemajuan olahraga di Kabupaten Agam.