Upaya menekan angka kecelakaan maritim di Indonesia menjadi semakin krusial seiring meningkatnya intensitas aktivitas pelayaran dan transportasi laut di wilayah kepulauan. Risiko insiden dipengaruhi berbagai faktor seperti kondisi cuaca ekstrem, kelayakan teknis kapal, serta tingkat kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. Silvianita ST MSc PhD, mengembangkan inovasi manajemen risiko berbasis teknologi cerdas. Sistem terintegrasi yang diperkenalkannya bertujuan meningkatkan keselamatan dan keandalan infrastruktur sektor maritim nasional.
Profesor perempuan pertama dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS itu memperkenalkan dua metode kunci: Methodology for Investigation of Critical Hazards (MIVTA) dan Methodology for Investigation of Risk-Based Maintenance (MIRBA). "MIVTA digunakan untuk menemukan potensi bahaya sejak dini, sedangkan MIRBA membantu menentukan langkah mitigasi paling tepat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan," jelasnya.
MIVTA bekerja dengan mengidentifikasi berbagai potensi bahaya dalam operasi maritim, menelusuri penyebab utama, serta menilai kemungkinan dan tingkat dampak yang dapat ditimbulkan. Proses ini menjadi dasar penetapan prioritas risiko yang memerlukan perhatian khusus.
Untuk memaksimalkan akurasi, Silvianita mengintegrasikan metode Fuzzy Logic ke dalam sistem MIVTA. Metode ini memungkinkan kondisi-kondisi di lapangan yang sulit diukur secara pasti dapat diproses menjadi nilai yang lebih objektif. "Dengan ini, kita bisa menangkap ketidakpastian di lapangan yang selama ini sulit dikuantifikasi," tuturnya. Hasil pemeringkatan risiko dari MIVTA kemudian dapat diproses lebih lanjut menggunakan MIRBA untuk merancang strategi pemeliharaan berbasis risiko yang efektif.
Silvianita menegaskan, "Manajemen risiko bukan hanya tentang menghindari kecelakaan, tetapi memastikan setiap keputusan menghasilkan operasi yang lebih aman dan berkelanjutan." Inovasi ini diharapkan menjadi kontribusi signifikan bagi penguatan sistem pengawasan, modernisasi teknologi navigasi, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor maritim Indonesia.