Kabupaten Jember tengah bersiap memasuki babak baru dalam pengelolaan sampah. Pemerintah daerah setempat mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi modern yang dirancang mampu mengonversi limbah padat menjadi energi listrik serta produk bernilai ekonomi. Langkah ini diambil sebagai upaya meninggalkan sistem pembuangan terbuka atau open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang selama ini masih menjadi tumpuan utama.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan bahwa proyek ambisius ini didukung oleh investasi yang diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun hingga Rp 2 triliun. Jember tercatat sebagai salah satu dari sekitar 20 daerah di Indonesia yang memperoleh dukungan investasi serupa, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong seluruh daerah untuk beralih dari sistem penimbunan sampah konvensional ke metode pengolahan yang lebih berkelanjutan.
"Jember mendapat kepercayaan menjadi salah satu daerah yang memperoleh investasi pengelolaan sampah. Ini merupakan langkah besar untuk mewujudkan sistem penanganan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan," ujar Fawait pada Senin (29/6/2026).
Menurut rencana, pembangunan fasilitas tersebut dijadwalkan dimulai pada Agustus atau September 2026 dan ditargetkan rampung pada April 2028. Sebelum memulai proyek, Fawait telah melakukan peninjauan langsung ke TPA Pakusari pada Sabtu (27/6/2026). TPA tersebut merupakan lokasi pemrosesan sampah terbesar yang masih berada di kawasan kota Jember. Kunjungan itu bertujuan mengevaluasi kondisi pengelolaan sampah saat ini sekaligus memastikan kesiapan lokasi untuk tahapan selanjutnya.
Kehadiran fasilitas pengolahan modern ini tidak hanya diharapkan menuntaskan persoalan sampah di Jember, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Proyek tersebut diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Lebih jauh, jika kapasitas pengolahan telah optimal, Jember berpotensi menjadi wilayah penyangga pengelolaan sampah bagi kabupaten-kabupaten tetangga.
Dengan beroperasinya fasilitas ini, fungsi TPA akan bertransformasi secara mendasar. Dari yang semula hanya berfungsi sebagai lokasi penimbunan, TPA akan menjadi bagian integral dari sistem pengolahan sampah terpadu yang lebih efisien, sehingga volume sampah yang berakhir tertimbun di lahan terbuka dapat ditekan secara signifikan.
Meski demikian, Fawait mengingatkan bahwa keberhasilan sistem ini tidak bisa semata-mata bergantung pada kecanggihan teknologi. Ia menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat, terutama dalam memilah sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah tangga. "Sebesar apa pun investasi yang masuk dan secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keberhasilannya tetap membutuhkan dukungan masyarakat," tegasnya, seraya mengimbau warga Jember untuk mulai membiasakan langkah sederhana tersebut guna mendukung kelancaran proses pengolahan di masa mendatang.