Pemerintah Kota Bekasi bersama DPRD dan perwakilan masyarakat Bantargebang baru saja melakukan studi banding ke fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) milik Wangneng Environment di Huzhou, China. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung teknologi waste to energy yang akan diterapkan di proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi.
Rombongan yang dipimpin Wali Kota Bekasi Tri Adhianto tersebut mencakup jajaran legislatif, dinas terkait, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran mereka secara bersama-sama menunjukkan komitmen transparansi dan upaya membangun pemahaman kolektif terhadap proyek strategis ini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menekankan bahwa studi ini merupakan bagian dari persiapan menjelang pembangunan fisik PSEL. Tujuannya adalah agar seluruh pemangku kepentingan memahami proses operasional, standar emisi, dan manfaat teknologi dari hulu ke hilir. Ia memastikan biaya kunjungan sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan pelaksana proyek, sehingga tidak membebani anggaran daerah.
Wali Kota Tri Adhianto menegaskan bahwa proyek ini lebih dari sekadar solusi pengolahan sampah. Ia menyatakan visi besar untuk mengubah Bantargebang, yang selama ini dikenal sebagai kawasan TPS, menjadi pusat inovasi lingkungan dan ekonomi hijau. Transformasi ini mencakup pengembangan industri turunan berbasis limbah proses PSEL untuk menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi baru bagi masyarakat.
Pemkot Bekasi menargetkan peletakan batu pertama proyek ini pada awal Juli 2026 mendatang. Harapannya, Bantargebang akan berubah menjadi simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan modern yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang pembangunan berkelanjutan di Kota Bekasi.