DENPASAR - Layanan bedah ortopedi di Bali kini memasuki babak baru setelah teknologi CORI Robotic Surgical System mulai tersedia di Rumah Sakit Siloam Bali. Kehadiran fasilitas ini disebut menjadi yang pertama di Pulau Dewata untuk mendukung tindakan operasi penggantian sendi lutut dengan bantuan robotik.
Teknologi tersebut ditujukan bagi pasien dengan gangguan lutut, antara lain nyeri akibat osteoarthritis, cedera sendi, maupun kondisi yang membutuhkan prosedur Total Knee Replacement (TKR). Dengan bantuan sistem navigasi robotik, dokter dapat merencanakan dan menjalankan tindakan bedah secara lebih terukur.
CORI Robotic-Assisted Arthroplasty bekerja dengan memetakan anatomi lutut pasien dalam bentuk tiga dimensi secara langsung di ruang operasi. Proses ini berlangsung real-time tanpa mewajibkan pasien menjalani CT scan terlebih dahulu.
Melalui pemetaan tersebut, dokter dapat menentukan ukuran serta posisi implan lutut yang paling sesuai dengan struktur tulang alami pasien. Pendekatan ini diharapkan membuat hasil operasi lebih presisi, stabil, serta membantu mempercepat proses pemulihan setelah tindakan.
Dokter Spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Bali, dr Erwin Saspraditya BMed Sci SpOT (K), telah menggunakan teknologi ini dalam operasi penggantian lutut. Ia menjelaskan, sistem CORI membantu dokter memperoleh panduan objektif saat tindakan berlangsung, termasuk dalam menilai ketegangan ligamen pasien.
"Dengan teknologi CORI, proses operasi penggantian sendi lutut menjadi lebih presisi. Sehingga memungkinkan dokter sedikit sekali memotong otot, pendarahan lebih minimal, dan dokter bisa mendapatkan nilai-nilai objektif tentang tension dari ligamen-ligamen pasien," kata dr Erwin, Senin (29/6/2026).
Peluncuran resmi CORI Robotic-Assisted Total Knee Replacement digelar di Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (28/6/2026) petang. Fasilitas ini menjadi bagian dari pengembangan layanan medis berbasis teknologi di bidang ortopedi, khususnya untuk kasus lutut.
Sales Director Advance Treatment RS Siloam, Rosmiaty Tio, menerangkan bahwa CORI Robotic Surgical System dari Tawada Healthcare memulai proses kerja dengan membuat pemetaan 3D tulang pasien. Data tersebut kemudian digunakan dokter untuk merancang ukuran dan penempatan implan.
Setelah perencanaan dilakukan, alat membantu mensimulasikan sekaligus menentukan sudut pemotongan tulang secara lebih akurat. Menurut Rosmiaty, metode ini dapat mempercepat pemulihan pasien dan menurunkan risiko perlunya tindakan revisi dibandingkan prosedur konvensional.
Sebelum teknologi robotik ini tersedia, operasi penggantian lutut umumnya menggunakan instrumentasi konvensional. Dalam metode tersebut, berbagai instrumen harus dirangkai untuk menentukan sudut potongan tulang, namun tidak memiliki kemampuan personalisasi seakurat sistem berbasis pemetaan 3D.
Rosmiaty menambahkan, teknologi ini dapat digunakan untuk pasien dengan kebutuhan penggantian sendi lutut, baik sebagian maupun total. Meski menggunakan sistem robotik, pasien tidak memerlukan persiapan khusus di luar standar persiapan operasi seperti pada prosedur konvensional.
Ia juga menegaskan bahwa pasien tidak wajib menjalani CT scan atau MRI sebelum tindakan karena bentuk tulang dapat dibaca secara 3D saat operasi berlangsung. Penggunaan alat ini ditujukan bagi dokter ortopedi, terutama yang menangani panggul dan lutut.
Menurut Rosmiaty, teknologi serupa sebelumnya telah tersedia di sejumlah rumah sakit di kota lain di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Pekanbaru. Kini, layanan tersebut diperluas ke Bali untuk memperkuat akses pasien terhadap tindakan ortopedi modern.