Pasar keuangan domestik menunjukkan performa yang kontras pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup di zona hijau pada level 5.912,44, menguat 0,67% dibandingkan penutupan sebelumnya. Keberhasilan ini membawa indeks kembali menembus level psikologis 5.900 di tengah dinamika pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global.
Sektor barang baku, energi, dan konsumer menjadi motor penggerak utama penguatan indeks kali ini. Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, BRMS, BUMI, VKTR, dan BMRI tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan IHSG, meskipun investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp689,3 miliar.
Berbanding terbalik dengan bursa saham, mata uang Rupiah justru mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar Rupiah terdepresiasi sebesar 0,44% dan parkir di level Rp18.070 per dolar AS. Posisi ini menandai level terlemah mata uang Garuda dalam kurun waktu satu bulan terakhir, serta menjadi kali pertama Rupiah kembali bertengger di atas angka psikologis Rp18.000 sejak 9 Juni 2026.
Analis menilai pelemahan Rupiah dipicu oleh dominasi dolar AS yang masih kuat di tengah kekhawatiran global. Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu jalur logistik strategis di Selat Hormuz memicu kecemasan pasar terhadap lonjakan harga energi dan inflasi. Kondisi ini secara tidak langsung memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, mungkin akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia baru saja mengambil langkah strategis dengan meluncurkan mandatori B50. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap impor solar, dengan proyeksi penghematan devisa hingga Rp170 triliun per tahun serta mendorong sektor energi domestik agar lebih mandiri di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipetakan oleh IMF.