Eforia demam batu akik yang sempat melanda masyarakat Indonesia beberapa tahun silam memang telah mereda. Kendati demikian, roda bisnis batu alam ini tidak sepenuhnya mati, melainkan mengalami transformasi ke arah pasar yang lebih spesifik dan tersegmentasi.
Di kawasan Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, denyut transaksi jual beli batu akik masih terus berjalan. Hanya saja, dinamika pasarnya kini sangat berbeda dibandingkan masa kejayaannya dahulu yang cenderung impulsif dan didorong oleh tren sesaat.
Agung Satria Permana, peneliti dari Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, menjelaskan bahwa industri batu akik saat ini tengah memasuki fase normalisasi. Setelah melewati puncak popularitas yang memicu lonjakan harga ekstrem, pasar kini mulai menemukan titik keseimbangan baru.
Menurut Agung, konsumen batu akik saat ini didominasi oleh kalangan kolektor, penghobi, serta komunitas yang memiliki pemahaman mendalam tentang kualitas dan karakteristik batu alam. Pasar ceruk (niche market) ini dinilai lebih stabil karena pembelinya tidak lagi sekadar ikut-ikutan tren, melainkan menghargai nilai estetika dan keaslian produk.
Di tengah ceruk pasar yang lebih kecil namun loyal ini, para pedagang dituntut untuk mengubah strategi bisnis mereka. Tantangan terbesar saat ini adalah maraknya peredaran batu imitasi, terutama di platform perdagangan digital. Oleh karena itu, penguatan kepercayaan konsumen melalui sertifikasi keaslian, standardisasi mutu, serta transparansi informasi produk menjadi hal yang krusial.
Selain sertifikasi, pelaku usaha juga disarankan untuk berinovasi melalui desain perhiasan yang lebih modern dan menyisipkan narasi historis pada setiap batu yang dijual guna menarik minat pasar internasional. Di sisi lain, opsi diversifikasi ke bisnis emas atau permata dinilai cukup sulit bagi sebagian besar pedagang karena keterbatasan modal usaha.